Malam ini sudah terasa sangat larut. Waktu pun sudah menunjukkan tengah malam dan aku masih sangat terjaga. Kaki yg sedari tadi kugantungkan di tembok pun masih tetap menungguku. Handphone yg sedari tadi menemaniku tiba tiba hening tanpa seribu suara yg sedari tadi muncul. Fikiranku pun melayang kemana-mana tanpa tujuan. Fikiran yg sedari tadi tertuju pada suatu hal tiba tiba menghilang begitu saja. Mata ku menyapu isi dari setiap inci kamarku ini. Beberapa gantungan yg mewarnai kamarku, menjadi pemanis untuk malam ini dan menyisakan senyum penuh arti yg tergambar dibirku ini. Beberapa hiasan dikamarku ini mengingatkanku pada sosokmu. Ya, kamu.. Sosok lelaki yg pergi dengan meninggalkan luka dan kecewa yg sangat dalam. Dan entah kenapa bayangmu masih belum benar benar bisa terhapus dari fikiranku hingga saat ini. Entah sudah berapa lama ku mencoba tapi semuanya percuma. Aku pun memutar lagu untuk menemani malam yg sepi ini. Fikiranku makin dibuat melayang layang tentang sosokmu. Ku ingat benar tahun lalu saat bulan puasa seperti saat ini. Kita yg baru saja menjalin hubungan tiba tiba sangat jarang sekali berkomunikasi sejak memasuki bulan puasa. Aku yg tak terbiasa dengan situasi ini sangat menyayangkan kenapa ini terjadi. Hampir setiap hari kita hanya bertanya kabar melalui chat, dan itu hanya beberapa kali kirim. Sungguh aku tak terbiasa oleh sikapmu yg tiba tiba menjadi orang sok sibuk ini. Ya, ku tau jika bulan ramadhan adalah bulan yg penuh berkah dan kita harus memperbanyak ibadah, tapi salahkah aku jika berharap sebelum kau sibuk kau bisa memberi ku sebuah kabar? Salahkah aku yg merindukan sosokmu yg biasa hadir di kehidupanku setiap jamnya? Salahkah aku mengharapkan kau ada seperti biasanya? Salahkah aku bersikap sepeti itu? Hingga sekarang pun aku masih ingat apa saja yg kau lakukan di tahun lalu. Ku masih ingat betul saat setiap pagi aku memberimu pesan singkat yg akan kamu balas saat siang hari setelah kau bangun; ku ingat betul saat aku menunggu lama untuk mengharapkan kabar dari mu padahal kamu sedang bermain band, basket, ataupun ps; ku ingat betul betapa aku berharap kau lah yg pertama mengucapkanku selamat berbuka tapi tak terjadi; ku ingat betul saat aku berharap kamulah yg menemaniku saat aku menunggu jemputan dan bukanlah dia; ku ingat betul betapa aku merindukan suara berat itu hingga membuatku menangis disiang hari saat puasa; ku ingat betul saat aku mematikan ponselku karna aku merasa tak lagi penting untukmu; ku ingat betul mata teduh itu melihatku dari kejauhan saat aku berlatih; ku ingat betul bahwa ada lelaki yg mengatakan bahwa dialah yg akan mengajakku ke desanya untuk melihat suasana sawah; aku ingat betul dengan semua kata manisnya tentang desanya; aku masih ingat betul semua moment bersamamu, bahkan kukira moment itu masih tertata rapi dipikiranku. Aku merindukan hal itu terjadi. Aku merindukan rasanya mengkhawatirkanmu. Aku merindukan menunggumu hingga tengah malam demi bisa chat dengan mu walaupun akhirnya salah satu dari kita ketiduran. Aku merindukan suara lelaki yg membaca al-quran setiap harinya. Aku merindukan air mata yg mengalir begitu saja saat kita saling berkomunikasi. Aku merindukan keras kepalamu, egoismu yg selalu membuatku luluh saat aku marah. Aku merindukan setiap detik bersamamu. Dan terkadang aku berkhayal akan kah semuanya akan terjadi lagi? Akan kah kesempatan itu terjadi lagi untuk kesekian kalinya? Akan kah aku biasa merasakan hal itu lagi denganmu? Tapi rasanya itu semua tak mungkin, bahkan sangat tidak mungkin. Kau sudah sibuk dengannya, dengan wanita itu. Dan kau sudah tak pernah melihat ke arahku lagi. Lalu akankah harapanku terwujud? Aku terlalu tertancap didasar permasalahan ini, dan aku tak bisa semudah itu untuk keluar. Maafkan aku yg masih menyimpan rasa untukmu.
Dari: wanita mu yg bodoh
Untuk: lelaki yg membuatku terjebak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar