Jumat, 10 Juni 2016

Isakan seorang gadis

Sore ini aku masih berdiri di tempat ini. Angin yg berhembus pun setia menemaniku disini. Sore ini, suasana sangat sejuk dan membuatku masih terpaku disini. Dari ketinggian ini aku bisa melihat daerah sekitar dengan indah. Suasana sekolah saat sore hari selalu terlihat menyenangkan buatku. Semua orang terlihat sangat asik dengan kegiatannya. Dan seketika mataku tertuju ke seorang gadis yg berada di tengah lapangan, yg sedang bercanda gurau dengan temannya. Ya, dia terlihat sangat senang dengan canda tawa yg tergambar pada raut mukanya. Dia adalah seorang perempuan yg sungguh manis, baik dan terlihat selalu bahagia. Entah kenapa aku selalu senang melihatnya. Dia terlihat sangat teduh, tenang dan anggun. Ia juga selalu tersenyum dengan semua hal yg ia hadapi seakan semuanya baik baik saja, walaupun aku tau kehidupannya tak semudah itu. Dan aku ingat betul, hari sabtu kemarin ia menangis dibelakang sekolah, dan tak ada seorang pun disana selain dia. Ya, dia memang begitu. Saat dia menangis dia selalu bersembunyi dari keramaian, entah itu dikamar mandi, belakang sekolah atau mushola karna tempat itu lah yg sepi saat semua orang sibuk dengan masalah perut dan harus pergi ke kantin. Dan sudah beberapa kali aku menemukannya saat seperti itu, saat ditanya pun ia selalu berkata semua tak apa walaupun terkadang aku tau jelas apa alasan dia menangis. Saat itu aku pernah mendengar dia menangis karna nilainya turun dan terkadang aku mendengar dia menangis karena lelaki yg ia sebut sebagai pacarnya. Ya laki laki itu hampir selalu menjadi alasan kenapa ia menangis. Tapi saat di kelas, saat dia bersama lelaki itu aku selalu melihatnya tersenyum dan tertawa seakan tak pernah terjadi masalah apapun dengan hubungan mereka. Dan beberapa teman kami pun selalu menginginkan hubungan seperti itu, tenang, selalu senang, selalu bahagia, dan selalu menyayangi. Tapi kenapa dilain tempat aku selalu melihatnya dengan raut muka yg berbeda. Dia memiliki cukup banyak teman bahkan teman dekat, apakah tak ada satu pun yg ia anggap sebagai sahabat? Sampai ia menangis ditempat yg sepi ini. Aku selalu ingin tau tentangnya, dan selalu ingin tau apa yg terjadi padanya. Tapi, tak semudah itu mencari sebuah cerita tentangnya.aku harus mencari itu sendiri atau bahkan aku harus bisa benar benar membuatnya nyaman untuk bercerita denganku.
Dan sabtu kemarin, aku masih ingat betul bagaimana dia saat itu. Raut wajah itu sangat berbeda dari biasanya. Semuanua seakan hancur, seperti ada luka yang dalam bahkan terlihat seperti kehilangan suatu hal yg berharga. Tangisan itu, raut muka itu sangat berbeda dengan yg kulihat biasanya. Aku pun mencoba menghampirinya. Mencoba menanyakan apa yg sedang terjadi, tapi semua itu tak membuatnya membuka mulut melainkan sebuah tangis yg makin terisak. Aku yg duduk disampingnya makin dibuat bingung melihatnya yg tak pernah seperti itu, dan aku pun menenangkannya, walaupun butuh beberapa menit tapi akhirnya tangis itu berhenti, dan yg tersisa hanya isakan yg sedari tadi belum hilang dan sepasang mata sembab yg ada di depanku. Perlahan tapi pasti ia mengatur emosinya, mengatur nafasnya seakan akan ia akan meluapkan semua ceritanya yg akan membuatnya menangis lagi. Dan ya semua itu benar, ia mulai merubah posisinya menjadi menghadapku dan mulai membuka mulutnya untuk menceritakan semua yg terjadi padaku. Aku pun menyiapkan sepasang telinga ini untuk menjadi pendengar setianya. Ia pun menceritakan semuanya dengan penuh isakan dan air mata itu lansung mengalir di pipinya lagi. Dan aku pun akhirnya tau kenapa ia seperti ini, kenapa ia terlihat seperti orang yg sangat kecewa. Ya, aku bisa merasakan semuanya yg ia rasakan dari cerita dan isakan tangis itu. Seseorang perempuan yg sungguh menyayangi seseorang lelaki yg sudah beberapa bulan terakhir menjadi pacarnya tapi semua itu berakhir disini. Semua berakhir, dengan alasan yg menurutku sendiri tak masuk akal. Lelaki itu memutuskan hubungan karena hal yg menurutku tak pantas untuk menjadi alasannya. Yang kulihat mereka sama sama menyayangi, mereka sama sama tak ingin kehilangan, tapi kenapa lelaki itu mengakhiri semuanya? Mengakhiri semua hal manis itu?

Dari: perempuan yg hanya bisa menutup mulutnya
Untuk: lelaki yg mengakhiri hubungan dengannya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Dunia Kecil Lucita Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez