Bel pulang sekolah
saat itu pun tiba. Aku dan kamu melakukan pembicaraan yang bisa dibilang serius.
Kau berkata bahwa semua ini sudah berakhir, kau berkata bahwa kita takkan
seperti dulu, kau berkata kau lelah dengan semua ini. Aku pun tak tau harus
menjawab dengan jawaban apa,dan seketika dadaku seperti tertimpa sesuatu yang
membuatku sangat sesak. Mata ini mulai terasa panas, tapi aku tak membiarkan
semua itu menetes didepanmu. Aku pun pergi meninggalkanmu tanpa ada ucapan atau
bantahan sedikitpun dariku. Air mata yang tadi kubendung perlahan pun mulai
menetes. Perasaan seperti apa ini? Kenapa semua terasa begitu sakit?
Aku tak pernah
berfikir akan seperti ini. Aku tak pernah berfikir hari ini akan datang. Kenapa
semua itu terjadi? Ada apa denganmu? Apa karna kau lelah “menunggu”? Apa karna
telah ada dirinya? Atau apa? Semua
pertanyaan-pertanyaan itu melintas difikiranku.
Apa kau tak pernah
berfikir sedikitpun tentang perasaanku? Ini sanagat menyakitkan, sungguh
menyakitkan. Seakan semua usahaku terbuang sia-sia. Dan kurasa semua usahamu
juga terbuang sia-sia. Kenapa harus seperti ini? Jika kita memiliki perasaan
yang sama kenapa kita tak bisa bersatu? Aku tau mungkin tak mudah bagimu
berjuang, bertahan, apalagi memperjuangkan orang yang tak jelas dan jauh
dibawahmu.
Kau pernah bilang,
jika kau lelah dengan usahamu yang selalu kau lakukan, dengan ucapan temanmu
yang selalu bertanya hubungan ini, dengan sikapku bersama teman lelaki, dengan
ucapanku dan tingkahku, aku benar benar minta maaf aku tak pernah bermaksud
seperti itu. Jujur aku sangat bertrimakasih kau telah memperjuangkan begitu
hebat, tapi kenapa kau tak bisa sedikit lebih bersabar?
Aku tak berharap
kau mengerti apa yang kulakukan untukmu, karna kukira kau lebih melakukan
banyak hal untukku. Aku tak berharap kau membalas semua itu, karna menurutku
rasa sayang itu adalah kekuatan bagiku. Disaat aku mengagumimu, aku memang tak
tau harus melakukan apa, tapi aku bakal mencoba memperjuangkan yang saat itu
aku punya. Selama itu kau yakin mejalani ini, selama itu juga aku yakin
mempertahankanmu.
Tau kah kau aku
melakukan hal bodoh demimu? Tau kah kau aku rela sakit karna melakukan hal
bodoh itu? Tapi kurasa semua itu sudah tak penting lagi, atau bisa dibilang tak
pernah penting. Kau benar, aku memang
gadis yang bodoh, tolol, egois, keras kepala. But, this is me.
Aku tak pernah menyesal
telah berjuang sedemikian,tapi aku hanya kesal kenapa semua ini harus berakhir
begitu cepat? Jika boleh jujur aku tak ingin semua ini berakhir. Tapi jika itu
semua keputusanmu, baiklah aku terima.
Oh iya trimakasih
telah diperjuangkan dengan begitu hangat ya^^
Pembencimu
Jangan asal copas ya readers, buat karya itu nggak segampang copy paste :)
Kalau mau nampilin karya
ini jangan lupa masukin nama pengarang ya:)
Trimakasih^^
LUCI ♡
Tidak ada komentar:
Posting Komentar