Sabtu, 24 Januari 2015

Tentang buku "Menjeda Mencari Muara Cinta"

Hai readers^^
Kali ini aku mau mbahas tentang buku yang baru aku baca, yang berjudul “Menjeda Mencari Muara Cinta” karya Adya Pramudita. Buku ini sangat menarik untuk dibaca, dan membuat rasa penasaran ku makin bertambah disetiap kejadiannya. Dengan tulisan dibelakang buku yang makin membuatku penasaran.

Tulisan dibelakang buku :
Mengingat dirinya aku seperti melukis sketsa dari garis terakhir.
 Menemukan kegembiraan, tawa, jahil, dan tangis pada kurun waktu yang lampau.
Setidaknya aku dapat mengenang, bahwa aku merasa bahagia dimasa laluku.
Bersamnya… sketsa cintaku terasa tak pernah usang.
Namun, ketika aku menemukanmu. Ataukah engkau yang menemukanku?
Kesalahanku seakan diselingi alunan lagu dan lirik-lirik yang merdu.
Kau mengenalku pada kehidupan yang memiliki begitu banyak warna.
Kau mengenalkanku pada kehidupan yang memiliki begitu banyak warna.
Kau juga menggenggam erat tanganku disaat aku harus memutuskan keputusan tersulit.
Kehadiranmu bagai pilar untukku dapat bersandar dan membantuku agar selalu berdiri tegar.

Dan menurutku ada beberapa kutipan yang bagus banget dari buku ini. Mari dibahass ya readers^^
  • Kita memang hanya memiliki satu hati, tapi kita bisa menyayangi beberapa orang dalam satu waktu. Tentu dengan tingkatan yang berbeda, dalam ruang-ruang redup hingga terang benderang. Hanya hati kita yang mengetahui siapa yang menempati ruang dengan tingkatan yang mana. Dan, seharusnya itu tidak tertukar.
  • Hidup adalah serangkaian gerbong kejadian. Kita bisa memutuskan siapa yang akan kita turunkan dalam sebuah stasiun dan meninggalkannya, kemudian kita bisa memilih siapa yang akan menemani perjalanan kita selanjutnya. Seharusnya demikian, pada kenyataannya, TIDAK.
  • Ketika dirimu terpisah dari seorang masa lalu, tidak serta merta jejaknya terhapus dalam ingatanmu. Seberapa jauh pun engkau pergi, sebahagia apa pun tawamu mampu tergelak. Ia akan menguntit, hingga engkau harus kembali. Kembali untuk membukanya lagi atau sekaligus menutup rapat kisah itu, dan menyimpannya dalam ruang terkunci.
  • “Gimana kamu mau menggambar wajah bahagia? Kalau kamunya enggak bahagia!” “Gimana mau menggambar gaun pengantin yang indah? Kalau kamunya murung, macam orang mau pergi ke kuburan pakai paying hitam”
  • Ketahuilah kawan, semakin kamu dilarang semakin dirimu penasaran. Itu juga yang terjadi padaku.
  • Dia tidak tahu aku sedang menahan rasa panas yang meringkus mataku, agar butiran embun didalamnya tidak jatuh
  • Mungkin saja aku pernah menjejak jalan pada titik yang sama dengan beliau, tapi nyatanya nasib dan nyali kamu berbeda bagai jurang dan lautan.
  • Setiap pagi aku upayakan untuk memiliki energy baru, sprit yang lebih dari hari-hari sebelumnya. Karena jika tidak aku akan tergilas roda bumi, sementara aku tengah bertarung dengan nasibku.
  • “Bersahabat itu sesuatu yang membingungkan! Kalau dekat terlihat biasa saja. Tapi kalau jauh, kangen! Kalau lihat dia jalan sama perempuan lain, cemburu!”
  • “So’take him, or I take him for my self…”
  • Persahabatan ini membingungkan. Sekatnya hanya tipis saja antara perasaan sayang dan suka.
  • “Kamu harus mencari tau apa yang sebenarnya kamu mau, kehidupan mana yang kamu inginkan!?”
  • “… Memang pada akhirnya siapa yang mau berubah, dialah yang bertahan. Aku salah satunya!”
  • Namun bru sanggu aku lakukan sekarang, setelah memecahkan karang yang ada di dalam diriku sendiri.
  • Ada satu waktu kita menjadi sangat berani menghadapi tantangan, tapi diwaktu lain kita pernah merasa sangat pengecut. Barangkali itulah arti seseorang untuk menemani dan menguatkan tekad kita
  • Ini seharusnya bukan cinta, cinta akan sama kietika dekat maupun menjauh. Mungkin yang dulu hanya sebuah rindu, rindu yang tergabung dari rasa marah dan jemu
  • Kadang orang yang terlalu berani juga dapat merugikan dirinya.
  • “Cinta itu adaptasi, Kei. Ketika kamu mapu membaur dengannya maka kau akan mudah mencintainya. Kamu harus menyeimbangkan ego dan segala presepsimu…"
  • “Cinta yang kau rasakan hari kemarin dan hari ini bisa saja berbeda, meski untuk orang yang sama”

Jangan asal copas ya readers :)
Trimakasih^^

LUCI 

Kamis, 22 Januari 2015

Terlalu cepat

Untuk Laut, yang kuat dan telah berhasil membuat batu karang berlubang.

Hujan dimalam hari ini, membuatku kembali membaca ulang semua percakapan kita. Percakapan disaat kamu dan aku masih saling peduli dan dekat. Aku pun tertawa geli saat membacanya, walaupun diam diam hati ini teriris mengingat bahwa hal manis itu sudah takkan terjadi lagi. Tak mungkin aku berharap bahwa kamu akan berubah menjadi pria yang dulu kukenal. Kenyataannya kamu bukanlah orang yang dulu kukagumi, kamu berubah menjadi orang yang tak kukenal.
Aku masih mengingat benar wajahmu, mata mu yang teduh, bibir yang tipis yang aku biarkan terus berkata meskipun kadang aku tak memahami apa yang kau katakan. Aku masih ingat betapa suara beratmu merasuk kedalam telingaku, membisikkan hal-hal yang sebelumnya tak pernah ku dengar. Aku masih menyimpan memori ketika kamu menggunakan kaos coklat, saat kau berjalan denganku, saat kau mengatakan itu  dan banyak hal yang jika semakin kuingat, itu hanya membuat dadaku semakin terasa sesak. Aku tak sadar mengapa perkenalan kita sukses membuatku berharap terlalu jauh pada sosok yang sempurna sepertimu?
Kamu adalah pria yang luar biasa, yang diceritakan begitu sempurna dalam film dan rangkaian peristiwa drama, sedangkan aku hanya gadis lugu yang hanya berani melihatmu dari kejauhan. Aku pernah berharap tidak akan terbangun dari mimpiku, yang akan menyadarkanku bahwa mendekatimu adalah sebuah khayalan yang terlalu tinggi.
Ternyata semua itu benar, kau tak sejauh matahari, dan kau bukanlah ilusi. Aku semakin dibuat terpesona oleh semua usahamu. Tapi, aku tak paham apa yang membuatmu seperti ini, aku tak tau kenapa kau bisa percaya dengan hal yang tak pasti, dan kenapa kau tak menanyakan semua itu dulu kepadaku? Aku tak tau mengapa hubungan yang awalnya main main ternyata bisa menimbulkan luka yang cukup dalam bagiku.
Mungkin memang, semua ini terlalu cepat bila harus berakhir. Aku sedang dipuncak-pucak sayangnya padamu, tapi kamu malah mendorongku jatuh kedalam jurang, jatuh senidiri kedalam tempat yang gelap dan kamu tertawa seakan tidak melakukan kesalahan. Ini terlalu cepat, Laut. Perempuan yang kau anggap batu karang ini masih ingin disini, masih ingin bertahan. Tapi kudengar kau telah dengan yang lain? Apa yang harus kulakukan? Aku tak punya status denganmu, dan menangis pun rasanya percuma.
Aku tak pernah membencimu.,tapi aku hanya benci jika hari-hariku tanpamu.
Aku tak pernal menyesal pernah mengenalmu, tapi aku hanya menyesal mengapa aku terlalu cepat mengulurkan tanganku.


Dari Batu karang yang akhirnya lubang karena airmu.


Terinspirasi dari kak Dwitasari

Jangan asal copas ya readers, buat karya itu nggak segampang copy paste :)
Kalau mau nampilin karya ini jangan lupa masukin nama pengarang ya:)
Trimakasih^^


LUCI 

Rabu, 21 Januari 2015

Salahkah perasaan ini?


Masih tersisa bayang-bayangmu disetiap inci tempat ini. Suara lagu dan barang-barang ini entah mengapa mengingatkanku denganmu. Aku tau, ini bukan perasaan yang biasa. Perasaan ini sangat tak jelas ujungnya, perasaan ini membuatku bingung, dan perasaan ini sungguh abstrak. Aku pun makin dibuat bingung dengan sikapmu akhir-akhir ini, tingkah yang dari awal tak ku kenal. Aku yang saat itu baru saja menyelesaikan semua tugas-tugasku dan mendengar ucapan-ucapan temanmu, yang menghancurkan kelegaanku.
Diam, cuek mungkin respon itu yang kuberikan padamu, tapi apakah kamu tau jika saat itu aku marah? Jika saat itu aku benar-benar kecewa padamu? Kenapa kau seperti ini? Meskipun aku tau kita belum terikat dalam status dan kejelasan tapi aku kira kita sudah berkomitmen, dan kejadian ini sungguh membuatku cukup terluka. Adakah hal yang paling membuatmu sakit ketika kau dibohongi dengan orang yang benar benar kau percayai? Dan kau melakukan itu, kamu merusak kepercayaanku yang telah kubangun susah payah demimu. Aku nggak tau harus marah, benci, menyesal, meninggalkanmu atau bagaimana. Yang ku tau, ternyata aku sangat tolol bisa dengan mudah percaya apa katamu. Kamu cuma lelaki yang menghalalkan segala cara untuk menghapuskan kesepihan dan kehausan atas perhatian.
Kalau kamu ingin aku bercerita sangat jujur, aku bakal cerita. Cerita tentang pertama kita dekat yang telah membuatku begitu tertarik, cerita tentang betapa aku kagum dengan semua usahamu, cerita betapa aku merasa beruntung bisa dekat denganmu, cerita tentang semua hal diduniaku yang berisikan tentangmu. Kamu terlihat sangat sempurna. Silaumu menggelapkan mataku, aku seakan dengan pasrah berjalan menuju kearah cahayamu. Aku terlena dengan percakapan kita, pada tawa candamu, pada selera humormu, pada kata-kata cintamu, dan pada semua usahamu.
Aku telah memilihmu, bahkan ketika aku menemukan factor yang entah disebut apa, yang mungkin bisa membuatku berfikir berkali kali untuk dekat denganmu lagi. Dari ucapan teman-temanmu, yang tak sepenuhnya kukenal. Mungkinkah aku salah telah mengagumimu? Dan mungkin seharusnya, sebelum kita bergerak terlalu jauh, aku harus tau bagaimana kamu. Aku tak tau ini perasaan apa, aku hanya merasakan mataku panas dan ada yang basah dipipiku.
Sekarang, apa aku harus menyesali semua ini? Kau dengannya sudah bersahabat lama, dan aku adalah orang yang baru kau kenal. Memang sudah pasti kau lebih dekat dengannya, tapi apa kau harus dengannya setiap waktu? Apa kau harus membawakan barang barangnya? Apa kau harus menunggu dia pulang? Dan siapa gadis gadis itu? Setiap ku tanya kau hanya menutup mulut, berkata bahwa kau dengannya hanya teman, berkata bahwa kau mencintaiku, berkata kau takut kehilanganku. Setelah kau hancurkan semua ini, kau masih ingin ku bersikap normal ketika luka dihatiku ini semakin berdarah?
Ku tau ini bukan salahmu, dan juga bukan salah sahabat atau teman-temanmu. Tapi salahku, gadis yang terlalu cepat nyaman dengan semua perhatian yang kau berikan. Gadis yang egois dan mudah cemburu. Dan gadis ini tak paham bahwa perkenalan ini ternyata bisa menjerumuskan nya pada perasaan yang seharusnya tidak dirasakan sekarang.
Aku tak pernah tau perasaan ini disebut apa. Yang jelas ketika kubilang ku ingin meninggalkanmu, aku ingin mengakhiri semua ini, aku ingin kau pergi menjauh, aku ingin kau bahagia dengannya, aku merasa seperti sangat membohongi diriku sendiri. Aku tak tau perasaan ini disebut apa, jika memang bukan cinta apa mungkin hanya ketertarikan sesaat? Tapi mengapa sampai sekarang aku masih menatap ponselku, berharap kamu menanyakan kabarku?

Ter-inspirasi dari kak Dwitasari.
Maaf ya kak ada kata-kata yang sama, habisnya ada beberapa kata yang ngena banget.
But this is real about me.

Jangan asal copas ya readers, buat karya itu nggak segampang copy paste :)
Kalau mau nampilin karya ini jangan lupa masukin nama pengarang ya:)
Trimakasih^^

LUCI


Hari-Hari Luna #Part3

Keesokan harinya^^

Karena hari ini hari Minggu, jadi sekolah libur. Pagi ini pun aku memutuskan untuk berkeliling kesekitar kompleks menggunakan sepeda pancal, hitung hitung sambil menghafal jalan sekitar rumah. Karna merasa dehidrasi, aku pun lansung pergi kesalah satu minimarket disekitar kompleks untuk membeli minuman. Dan tak ku sangka,  aku pun bertemu denganya lagi.
“Hai” sapaku dengan senyuman manis.
Dia pun hanya membalas dengan senyuman manis.
“Kamu lagi ngapain disini?” tanyakku memulai pembicaraan.
“Nih, aku lagi mau beli minuman” ucapnya singkat sambil menuju kekasir.
“Oh sama dong” jawabku sambil ngikut kekasir.
“Rumah kamu daerah sini juga?” tanyakku lagi.
“Iya” jawabnya.
“Hm.. Dimana?”  ucapku.
“Di blok S-12” ucapnya singkat.
“S? Rumah saudaraku juga disana” kita pun selesai membayar. “Jadi kita bertatangga dong?” ucapku lagi.
“Iyakah? Emangnya rumah kamu dimana?” Tanya lelaki ini.
“Aku blok S-15” ucapku sambil berjalan menuju sepeda mengikutinya.
“Terus setelah ini kamu mau kemana?” ucapnya.
“Mau pulang” jawabku lagi sambil meminum minuman yang telahku beli.
“Kalau gitu, barengan aja” ucapnya mengajakku dengan senyuman manisnya.
“Boleh” ucapku membalas senyumannya.
Sambil bersepeda menuju rumah kita pun berkenalan.
“Oh iya, kita belum kenalan. Namaku Luna. Kamu siapa?” tanyakku pura-pura tak tau.
“Aku Adrian” jawabnya singkat. “Oh iya salam kenal ya Lun” ucapnya sambil tersenyum kearahku.
“Iya, salam kenal” ucapku dan tak terasa sudah sampai di rumah.
“Aku lansung pulang ya Ian” ucapku sambil kearah rumahku.
“Iya sampai bertemu besok ya” jawabnya.
“Iya” jawabku sambil tersenyum manis.
Aku pun lansung masuk kedalam rumah, dan ternyata rumah sudah kosong. “Ini Kak Sanvik pada kemana sih, kan aku laper” gumamku dalam hati. Aku pun pergi menelusuri dapur yang ternyata ada note dari Kak Sanvik yang isinya
“Kalau mau makan, di meja makan udah ada bubur ayam. Selamat makan ya^^”.
“Hihi baik juga ini kakakku, ternyata udah disiapin sarapan” ucapku sambil mengambil bubur ayam dimeja makan. Dan karna aku lagi laper berat, jadi aku pun lansung menyantapnya.
Setelah makan aku pun lansung menuju kamar, yang berada dilantai atas. “Enaknya ini ngapain ya?” ucapku bingung. Aku pun lansung membuka laptop kesayanganku dan mengerjakan tugas yang ternyata sudah menumpuk. Dan tak terasa sudah malam, karna terlalu serius dikamar mengerjakan tugas aku pun tak sadar bahwa kak Sanvik sudah datang dari tadi. Aku pun lansung turun kebawah untuk mandi karna sudah dari pagi belum mandi (hihi jorok ya). Setelah mandi aku bertemu kak sanvik yang sedang menonton TV.
“Hai kak” ucapku mendekatinya.
“Hei, baru mandi ya kamu?” tanyanya.
“Hihi iya nih” jawabku sambil tertawa.
“Dasar adek kakak jorok” ucapnya sambil tertawa “Oh iya, kamu udah makan belum?” tanyanya.
“Belum nih kak, aku aja baru selesai nugas” ucapku memelas.
“Kamu itu dasar” ucapnya mengacak acak rambutku “Tuh kakak ada makanan, makan sana” ucapnya lagi.
“Kakak baik deh, ngerti aja kalau aku lagi laper” ucapku sambil memuji muji.
“Iya dong” “Ya udah makan sana” ucapnya.
“Kakak udah makan?” tanyakku.
“Sudah dari tadi, lihat tuh ini udah jam berapa” jawabnya sambil menunjuk kearah jam dinding yang ternyata sudah jam setengah 9 malam.
“Hah sudah jam setengah 9? Kok nggak terasa ya? Ya udah deh aku makan dulu ya kak” ucapku sambil menuju meja makan.
“Kamu sih dikamar terus, ya udah sana makan” ucapnya.
Aku pun lansung mengambil makanan yang ternyata sudah tersedia di meja makan. Dan setelah makan aku pun lansung menuju kamar dan berpamitan untuk tidur.

Keesokan harinya^^
Kringgg… Alarmku berbunyi, aku pun segera mematikannya. Dengan mata yang masih setengah terbuka aku pun menuju kamar mandi. “Hari senin ya? Upacara? Duh malesnyaa” ucapku dikamar mandi. Setelah mandi aku pun melihat note dimeja makan “Morning^^ Kalau mau sarapan, itu ada nasi goreng. Kakak ada urusan kamu berangkat sendiri ya” tulisnya. “Berangkat sendiri? Mana ada taxi pagi pagi gini? Huft dasar kakak” gumamku ngomel ngomel sendiri sambil menganmbil sarapan. Aku pun segera memakan sarapanku, dan bersiap siap untuk berangkat sekolah. Aku pun keluar rumah dan melihat jam yang ada ditanganku “Kok sudah jam segini? Telat ngga  ya? Ah nyebelin deh hari ini” ucapku sendiri sambil jalan menuju luar kompleks untuk mencari taxi. Saat aku mau jalan tiba-tiba ada suara orang yang memanggil namaku “Lun” ucapnya.
Aku pun lansung menoleh kebelakang dan ternyata itu Adrian “Hai” ucapku.
“Mau berangkat sekolah?” tanyanya.
“Iya nih, ini lagi mau kedepan cari taxi” ucapku.
“Bareng aku aja” ucapnya menawarkan.
“Iya deh, tapi helmnya gimana?” tanyaku.
“Nih, aku bawa” ucapnya sambil memberikan helm.
“Okey, aku bareng ya Ian” ucapku tersenyum manis sambil mengambil helm yang ada ditangannya.

Kami pun berangkat kesekolah berdua. Dan ternyata jam pelajaran pun sudah dimulai. Kita berdua telat dateng kesekolah, jadinya aku dihukum lari muterin lapangan, sedangkan Adrian jalan jongkok muterin lapangan. “Huft, hari ini aku sial banget ya?” gumamku dalam hati.

Ingin tau kelanjutannya?
Apa Luna dengan Adrian makin deket? Atau malah sama Kevin?
Tunggu post berikutnya ya readers^^

Jangan asal copas ya readers, buat cerita itu nggak segampang copy paste :)
Kalau mau nampilin cerita jangan lupa masukin nama pengarang ya:)
Trimakasih^^

LUCI

Selasa, 20 Januari 2015

Miss Beautiful Singer


Semenjak aku masuk kuliah, duniaku berubah, hidupku berubah, kisah dan kebiasaanku juga mulai berubah. Kenalin aku Arya. Aku mahasiswa di salah satu unversitas di Jakarta tepatnya di Unviversitas Indonesia (UI). Disini aku tinggal sendiri tepatnya di salah satu apartemen milik ayahku, karna letaknya tak jauh dari tempat kuliahku. Sedangkan kedua orang tuaku tinggal di Bandung.
Waktu itu kuliahku sudah libur, bisa dibilang libur semester. Jadi untuk mengisi waktu liburku, aku pergi ke Bandung rumah orang tuaku. Tapi saat itu aku hanya pergi selama satu minggu. Pagi hari sambil mendengarkan musik kesukaanku aku pergi ke stasiun, dan untung saja kereta belum berangkat. Karena aku datang terlalu mepet, jadi aku tak perlu menunggu terlalu lama. Kereta pun mulai berjalan, diperjalanan aku melihat kearah jendela sambil berangan angan akan tampil disuatu tempat dengan kemampuan gitarku sendiri walaupun masih setengah setengah.
Malam harinya, aku pergi ke sebuah café di Bandung untuk bersenang senang. Sesampainya disana aku pun lansung memesan minuman dan makanan. Sambil menunggu pesananku, aku melihat ke sekelilingku “Ternyata tempat ini asik juga ya” gumamku dalam hati sambil melihat dekorasi café yang classic. Tiba-tiba ada seseorang cewe yang naik keatas panggung, ia pun mulai bernyanyi sambil memainkan gitar yang dipegangnya. “Suaranya enak banget, pinter gitar lagi” gumamku. Orang-orang pun bersorak “Aurel~Aurel~Aurel~”, dalam hati aku berkata “Apa mungkin aku bisa memiliknya?”.
Setelah aku mendengarkannya bernyanyi “All Of Me” dengan iringan gitar acoustic, tiba-tiba aku mendengar ada yang memanggilku.
 “Arya” teriaknya. Suara itu taka sing lagi buatku. Aku pun menoleh kearah asalnya suara itu dan ternyata ia adalah teman satu kampusku. Namanya Rafa dan kita pun mulai berbincang-bincang. Dan ternyata ia juga sedang berlibur di Bandung.
“Hei, liburan disini juga?” ucap Rafa.
“Hehe iya nih, ngomong-ngomong kamu sama?” ucapku melirik perempuan di meja yang tadi diduduki oleh Rafa.
“Oh, itu pacarku” ucapnya cengingisan.
“Gini nih, udah berapa lama?” tanyakku
“Udah dari SMA kali, 1 tahun lebih, bulan depan mau 2 tahun. Pacar kamu kemana nih?” ucap Rafa.
“Aku kan masih single” ucapku santai.
“Haha cari dong” sahut Rafa.
“Nggak ah, ada waktunya kali aku pacaran” jawabku biasa.
Setelah lama berbincang, akupun kembali pulang kerumah untuk istirahat.
Dan nggak terasa sudah satu minggu berjalan, aku pun bergegas untuk kembali ke Jakarta, sebelum ke Jakarta aku tak lupa berpamitan kepada orang tuaku.
Setelah sesampainya disetasiun kereta api, tiba-tiba aku melihat cewe yang pas itu nyanyi di café “Kenapa dia juga distasiun?” tanyakku dalam hati. Kereta pun mulai berjalan, Bandung-Jakarta.
Sesampainya aku di Jakarta, jam 9 pagi. Aku pun lansung kembali ke apartemenku dan membersihkan apartemenku yang telah seminggu tak berpenghuni. Dan mulai besok aku sudah memulai rutinitas seperti biasa.
Pagi harinya aku pun lansung menuju kekampus, karena hari ini aku ada mata kuliah pagi. Tiga jam pun berlalu, mata kuliahku hari ini telah selesai. Aku dan teman-temanku tak lansung pulang, kita nongkrong seperti biasa di kantin kampus. Dan tiba-tiba salah satu temanku bilang bahwa group band kampus yang bernama “STAR” kekurangan guitarist, aku pun lansung antusias untuk mendengarkannya. Dan aku pun memutuskan untuk mendaftarkan diriku di Band itu, setelah dites akhirnya aku keterima untuk gabung di Band itu.
Malam harinya, aku diajak untuk menonton konser kecil-kecilan di sebuah café di Jakarta pusat. Setelah aku masuk disana, ternyata teman-temanku sudah memesan minuman, akhirnya aku pun memesan minuman. Sambil mengobrol dan minum-minum acara pun dimulai. Dan seorang cewe membawa gitar pun naik keatas panggung, dengan rambut berlayer dan menggunakan rok pendek dengan atasan kaos lengan panjang cewe itu terlihat mengesankan. “Aurel?” ucapku dalam hati kaget.
Suaranya sungguh merdu dan sangat enak didengar dengan iringan gitar acoustic nya. Mungkin karena suara ini sudah tak asing lagi ditelingaku “Sungguh nih cewe luar biasa” ucapku dalam hati. Tidak terasa konser pun usai, aku dan teman-temanku kembali pulang.
Keesokan harinya, aku dan teman-temanku berkumpul distudio musik untuk merencanakan membuat lagu, memang sih nggak mudah dan vokalis di bandku laki-laki, jadi lebih susah lagi untuk mendapatkan lirik dan aliran yang pas. Akhirnya semua anggota Band pun disuruh untuk mencari inspirasi judul dan lagu yang di buat nanti dan besok kita bakal kumpul lagi untuk merencanakan lagu yang dibuat.
Aku pun keluar dari studio musik untuk mencari inspirasi “Kemana ya? Apa aku datang ke café kemaren?” gumamku dalam hati, tanpa berpikir panjang aku pun lansung pergi ke café itu. Sesampainya disana aku lansung memesan secangkir white coffe, dan berharap cewe itu bakal tampil ditempat ini lagi. Setelah beberapa lagu, penyanyi pun berganti dan ternyata bukan dirinya. Sambil menarik nafas aku pun kembali ke apartemenku.
Satu semester kemudian^^
Seperti liburan kemarin, aku pergi ke Bandung untuk menemui kedua orang tuaku sekalian berlibur juga. Dan ngomong-ngomong tentang Band kampus, masih kaya dulu masih nyanyiin lagu orang, karna Band kita masih belum punya lagu yang bener bener siap.
Kulihat jam tanganku yang telah menunjukkan pukul 4 sore, aku pun lansung bergegas kearah taxi untuk menuju ke rumah orang tua ku. Sesampai nya dirumah orang tuaku, aku pun lansung membersihkan badanku yang terasa lengket karna perjalanan. Lalu, aku melanjutkan dengan tidur karena capek.
Keesokan harinya. Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 aku pun lansung bangun dan menuju kekamar mandi karena sudah telat. Hari ini aku memiliki rencana untuk pergi ke studio music.
Aku pun lansung berpamitan kepada orang tuaku untuk mencari inspirasi baru, dan lansung menuju ke studio music. Saat disana aku melihat seorang cewe yang sedang membuat lagu, dan saat aku lihat lebih teliti ternya itu Aurel, aku pun mendekatinya dan berkata “suaranya bagus” dengan nada gugup.
“Makasih, kamu sapa ya?” ucap cewe itu sambil memperhatikanku.
“Hm.. Aku Arya, aku pernah beberapa kali lihat kamu tampil waktu di café Jakarta pusat sama café di Bandung. Suaramu bagus banget” ucapku sambil tersenyum.
“Oh, emang kamu tau siapa aku?” tanyanya.
“Aurel bukan?” jawabku
“Iya” jawabnya dengan senyuman manis “Kenapa kamu kesini? Ada yang pingin kamu tanyakan? Tanyanya.
“Hm.. Jadi gini, aku punya sebuah Band di kampus. Dan kita sedang membuat lagu, tapi nggak ada yang punya inspirasi, jadi aku butuh seseorang yang bisa menginspirasi” jawabku mejelaskan.
“Jadi gitu. Keliatannya aku bisa bantuin kamu” ucapnya sambil menatapku.
“Beneran nih? Kamu kapan bisanya?” tanyakku antusias.
“Iya bener. Kalau pas kamu kesini lagi aja, ditempat ini” ucapnya.
“Oke, aku tunggu ya” jawabku dengan senyuman.
Setelah berbicara panjang lebar, akupun berpamitan pulang dan meninggalkan studio music itu.
Keesokan harinya pun aku bergegas untuk pergi ke studio music. Tapi, ternyata Aurel tak ada disitu. Keesokan harinya, aku kembali lagi tapi tetap saja Aurel tak ada disitu. Sampai waktu kepulanganku pun, aku belum bertemu dengan Aurel lagi.
Akhirnya aku kembali ke Jakarta. Dan ternyata kepulanganku tak mambawa hasil apa-apa, dengan perasaan sedih aku kembali. Tapi saat itu aku tak mau menyerah, karna hal ini penting demi kemajuan Bandku.
Sesampainya di Jakarta, rutinitasku mulai berjalan seperti biasa, saat selesai kuliah aku dan teman temanku berkumpul bersama untuk merundingkan masing-masing inspirasinya, tapi ternyata tak ada seorangpun yang punya inspirasi. “Apa mungkin Band ini akan berakhir?” tanyaku dalam hati.
Setelah berkumpul dengan teman bandku, aku pun lansung pulang ke apartemenku, tapi aku mampir ke café yang biasa aku datangi dengan harapan aku bisa bertemu dengan Aurel. Tapi ternyata disana aku tak juga menemukannya. Lalu aku pun memutuskan kembali ke apartemen.
Apartemenku terasa sangat sepi, lalu tak lama kemudian aku mendengarkan suara nyanyian. Jika dipikir-pikir aku sangat mengenal suara ini, tapi suara siapa? Suara ini sudah tak asing lagi ditelingaku, dan kuingat ternyata ini suara Aurel. Kulihat sudut demi sudut apartemenku, tak ada seorang pun disini “Mungkin hanya fikiranku saja, karna terlalu mimikirkannya” ucapku. Tiba-tiba aku tertidur dengan posisi memegang gitar.
Tak lama kemudian aku melihat Aurel yang sedang menyanyikan sebuah lagu, dia pun mendekat dan memberikan sebuah kertas bertulis “Can you move on” yang ternyata itu judul lagu yang ia buatkan untukku, aku pun menghafalkannya lirik dan not baloknya aku hafalkan ditempat itu juga. Setelah 2 jam berlalu akhirnya aku hafal, aku dan Aurel menyanyikan lagu itu bersama sambil ku iringi gitarku. Sungguh lagu ini bagus sekali. Setelah lagu ini selesai, Aurel pun berkata “Pergilah, kerjarlah impian Bandmu itu dengan lagu ini”

Dan tak lama kemudian aku pun terbangun dari tidurku, dan ternyata itu tadi hanya mimpi. Aku pun merenungkan sejenak dan mencoba menulis kembali lirik dan not lagu yang dibuat oleh Aurel. Karna mengingat-ngingat Aurel, aku jadi terlambat masuk kuliah. Sepulang kuliah seperti biasa, aku pun berkumpul dengan teman-teman Bandku. Dan ternyata Bandku ketambahan satu anggota dengan posisi vocalist perempuan dan ia masuk karna voting terbanyak, iya memang sih suaranya bagus. Aku pun lansung mengusulkan lagu yang telah dibuat Aurel di ketua Bandku, dan ternyata teman-temanku pun setuju. Akhirnya terbuatlah lagu itu. Setelah kita rekaman, lagu itu lansung dipromosikan ke beberapa tempat. Dan betapa bahagianya aku, ternyata Bandku meroket dengan cepat dan hampir semua orang mengenal nama Bandku ini. 
Aku pun selalu memikirkan Aurel disetiap aksiku ini, aku tak peduli dimana dia sekarang. Jika dia ada, aku hanya ingin mengucapkan trimakasih kepadanya, walaupun itu hanya lewat mimpi.


Jangan asal copas ya readers, buat cerita itu nggak segampang copy paste :)
Kalau mau nampilin cerita jangan lupa masukin nama pengarang ya:)
Trimakasih^^

LUCI

Berhentilah

Ngga semua hal harus dikejar untuk menggapainya…
Contohya cinta..
Terkadang ia ada disekitarmu, mengawasimu, dan melihatmu
Tapi kau tak pernah sadar
Kau tetap saja mengejar hal yang tak pasti…
Mengejar hal yang bahkan bukan milikmu…
Berhentilah…
Berhentilah untuk mengejar…
Bukan berarti kau menyerah..
Tapi terkadang, kau hanya butuh waktu..
Waktu untuk merasakan siapa yang peduli denganmu


                                                                                                Pembencimu

LUCI

Hari-Hari Luna #Part2

Lanjutan part1


Sesampainya dirumah, lelaki itu berteduh sebentar dirumahku. Kulihat seragamnya basah, aku pun lansung membawakannya handuk, dan pakaian ganti.
“Nih, handuk sama pakaian, kamu ganti dulu sana nanti masuk angin lagi” ucapku.
Ia pun lansung bergegas ganti baju. Setelah ia mengganti pakaian, ia pun duduk di ruang tamu sambil menunggu hujan berhenti. Aku datang membawakan teh hangat untuknya.
“Hei, makasih ya udah mau nganterin aku sampai kehujanan kaya gini” ucapku tak enak.
“Iya nggak papa kok. Lagian kita kan sekelas, sapa tau kita bisa belajar bareng” ucapnya.
“Sekelas? Oh iya sih” jawabku bingung.
“Iya. Kamu belum tau siapa aku?” tanyanya kebingungan.
“Sebenernya belum” jawabku menunduk.
“Terus tadi kenapa kamu mau aku ajak pulang?” jawabnya makin bingung.
“Iya.. Karna tadi aku lihat kamu kaya anak baik baik dan aku kaya pernah tau muka kamu, walaupun aku nggak kenal jadi aku mau aja” ucapku sambil berfikir.
“Oh.. Untung kamu nggak salah orang. Kalau yang ngajak pulang bareng orang lain terus diculik gimana?” guyonnya.
“Kenalin aku Kevin. Aku duduk sama Eryan. Dua bangku dari tempat dudukmu”  lanjut laki itu.
“Hehe iya juga sih. Oh iya Vin, thanks ya” Ucapku tersenyum malu.
“Hehe iya Lun sama sama” ucapnya dengan tersenyum manis.
Sambil menunggu hujan reda,aku dan Kevin bercerita. Bercerita banyak hal, ia menceritakan tentang sekolah, teman sekelas, isu-isu yang ada, dan lain lain. Dan tak terasa ternyata hujan telah berhenti. Karna sudah malam, ia pun lansung ijin untuk pulang.

Keesokan harinya^^
Aku pun segera bergegas untuk berangkat sekolah. Seperti hari kemarin, aku berangkat sekolah bersama saudaraku karna aku belum hafal jalan kesekolah dan aku tak bisa mengendarai motor. Hari ini aku berangkat lebih awal, karna saudaraku ada urusan penting. Saat disekolah aku sudah melihat Kevin yang duduk dibangkunya sambil menggunakan headsed. “Ternyata dia rajin juga jam segini udah disekolah, yang lain aja belum pada dateng” ucapku dalam hati. Ia pun melihat kearahku dan tersenyum manis, aku pun membalas senyuman itu. Setelah menaruh tas aku pun duduk diluar kelas. Satu persatu anak pun mulai berdatangan, termasuk Chyntia. “Tapi kenapa aku tak melihat Adrian? Apa dia telat lagi?” fikirku dalam hati. Tiba-tiba Chyntia menghamipiriku “Kamu lagi nunggu sapa Lun?” tanyanya.
“Nggak lagi nunggu sapa sapa kok” jawabku.
“Oh.. Eh tumben Adrian nggak dateng telat” ucapnya sambil melihat lelaki yang sedang berlari kecil menuju kelas sebelah.
“Emang dia mesti telat ya?” tanyakku makin penasaran.
“Iya lumayan sering sih. Tapi dia murid yang berprestasi lo” jawabnya.
“Keren dong. Tapi kok nggak disiplin ya?” jawabku aneh.
“Iya keren, tapi orangnya dingin banget” gumamnya.
“Oalah” jawabku. “Emang iya sih kelihatannya dia misterius banget” ucapku dalam hati.
Bel tanda masuk pun berbunyi. Aku dan Chyntia lansung menuju ke kelas. Pelajaran pertama yaitu Matematika. Aku selalu antusias dalam pelajaran ini, saat disekolah dulu. Dan semoga guru di sekolah ini nggak membuatku bosan. Satu, dua, tiga jam pelajaran pun berlalu ternyata gurunya sama aja asiknya menurutku.
Bel istirahat pun berbunyi, yang menandakan waktunya istirahat. Kali ini aku ke kantin sendirian karna Chyntia lagi mau nyelesaikan tugas. Aku pun segera memesan makanan. Saat aku melihat menu dikantin tiba-tiba ada yang membisikanku “Mie Ayam aja” ucapnya. Aku pun menoleh kebelakang, dan ternyata itu Kevin. “Hei ngapain kamu?” tanyakku bingung.
“Abisnya kamu kelamaan milih, jadi aku bisikin aja” jawabnya.
“Bu pesen mie ayam satu ya” ucapku pada ibu penjual di kantin.
“Udah selesaikan pesennya, silahkan pesen” ucapku mengejek.
“Haha iya iya” jawabnya “Bu mie ayam juga ya” ucapnya ke ibu kantin.
“Ish kamu ikut ikut pesennya” ejekku sambil menunggu mie ayam.
“Biar deh” ejek dia balik.
Mie ayam ku pun sudah jadi, aku lansung pamit dan mencari meja untuk makan “Vin aku duluan ya” ucapku. 
"Iya silahkan" jawabnya usil.
Aku melihat ke arah tempat duduk dan ternyata semuanya penuh, tapi ternyata diujung kantin ada tempat kosong, walaupun ada satu lelaki yang sedang duduk sambil membaca buku disana. “Mungkin aku bisa ijin duduk disitu” fikirku.
“Misi? Aku boleh makan disini nggak?” tanyakku sopan.
“Iya silahkan” jawabnya dengan muka yang tertutup buku.
“Makasih” jawabku sambil melihat muka yang sebenarnya tak kelihatan. Karna aku lagi lapar, jadi aku lansung makan mie ayamku tanpa memperdulikannya. Sambil makan aku tetap memperhatikan sosok orang disebelahku ini.
“Kenapa nggak baca diperpus aja?” tanyakku mencoba memulai pembicaraan.
“Perpusnya lagi dipakai buat naruh buku yang baru datang” jawabnya tanpa menurunkan  buku yang ia baca.
“Oh.. Nggak makan?” tanyakku lagi
“Lagi nggak laper” jawabnya singkat, dan perlahan buku yang tadi menutupi mukanya sekarang sudah tidak menutupi mukanya lagi.
“Kamu? Kamu bukannya orang yang pas itu nabrak aku di bandara?” ucapku spontan yang ternyata itu Adrian.
“Kamu orang yang aku tabrak ya? Sory ya waktu itu aku buru-buru” ucapnya tak enak.
“Oh iya nggak papa sih” ucapku “Emang kemaren kenapa sampai tergesa-gesa kaya gitu?” tanyakku lagi.
“Barang bokap ku ketinggalan, jadi aku berusaha buat ngejar” ucapnya menjelaskan.
“Oalah” jawabku sambil memakan mie ayamku.
Tiba-tiba ia berdiri sambil tersenyum dan berkata “Semoga kita bertemu lagi ya” ucapnya.
“Hm.. Iya” ucapku sambil tersenyum.
Setelah mie ayamku habis, aku pun bergegas masuk kedalam kelas.
Saat pualng pun tiba. Sama seperti kemarin aku menunggu taxi. Dan untungnya tak selama kemarin.


Ingin tau kelanjutan ceritanya?
Apa mereka bertemu lagi? dimana? dan karna apa?
Tunggu kelanjutannya ya readers^^

Jangan asal copas ya readers, buat cerita itu nggak segampang copy paste :)
Kalau mau nampilin cerita jangan lupa masukin nama pengarang ya:)
Trimakasih^^

LUCI

Senin, 19 Januari 2015

Rindu


Tuhan..
Aku rindu saat saat itu…
Saat aku merasa senang setiap hari…
Seperti kecanduan.!
Tuhan…
Aku rindu saat saat itu…
Saat aku punya alasan untuk cemburu
Tertawa dan menangis…
Dalam waktu yang bersamaan.!
Tuhan…
Aku rindu saat saat itu…
Saat aku merasa sempurna…
Saat aku lupa dengan semua kekuranganku!
Tuhan…
Aku rindu saat saat itu…
Aku rindu saat aku jatu cinta…
Tuhan…
Tolong buat aku jatuh cinta sekali lagi…
Aku benar-benar merindukannya!

by Indi Sugar
but beberapa kata sudah aku rubah

LUCI

Hari-hari Luna #Part1

     Malam hari disebuah bandaara Husein Sastranegara, aku pindah dari Surabaya ke Bandung. Kulihat jam tanganku yang sudah menunjukkan jam 11 malam, tapi tetap saja bandara ini masih ramai. Aku pun lansung menuju ke arah taxi, dan brakkk.. Aku bertabrakkan dengan seorang pria yang kelihatannya sangat terburu-buru. “Eh sorry sorry, aku nggak sengaja” ucapnya sambil membantu mengambilkan barangku yang jatuh. “Iya nggak papa kok” kataku sambil mengambil barang yang telah ia bawa. Lalu lelaki itu lansung berjalan cepat meninggalkanku. Aku pun segera masuk ke dalam taxi dan terdiam sejenak mengingat sosok lelaki tadi “Ah buat apa aku aku memikirkan lelaki tadi” kataku dalam hati. Sesampainya dirumah saudaraku aku pun lansung menuju kamar dan membersihkan badan akibat perjalanan tadi.
     Oh iya, aku belum memperkenalkan diriku. Perkenalkan aku Luna. Cewe yang bisa dibilang cantik, ngeselin, manja, dan lain lain. Aku memiliki tubuh yang bisa dibilang indah dengan kulit kuning langsat, rambut hitam lurus, tinggi yang rata rata, hidung mancung, dan lain lain. Aku seorang pelajar yang masih duduk dibangku kelas 11 atau bisa dibilang kelas 2 SMA. Aku pindah ke Bandung sih karena disuruh ortu agar lebih mandiri, dewasa dan blabla apalah itu, so aku tinggal sama saudara laki-laki ku di Bandung sekarang. Saudaraku adalah seorang mahasiswa dari Universitas ITB. Keren nggak? Keren ya? Ia berbeda sekali denganku, malah sifat kita berlawanan. Apa mungkin karna aku masih kecil? Mungkin sih. Okey kita lanjut kecerita.
     Kringgg.. Alarmku berbunyi, dan akhirnya membuatku terbangun. Dengan mata yang masih setengah sadar aku pun lansung pergi ke kamar mandi. Yeay.. Seragam sekolah baru pun sudah melekat ditubuhku ini. Kulihat saudaraku sudah menungguku untuk sarapan dan berangkat bersama. Kami pun lansung memakan sarapan yang telah siap. Roti + susu adalah sarapanku hari ini. Setealah sarapan ia pun lansung mengantarkanku berangkat ke sekolah yang baru. Tapi ia hanya mengantarkanku hingga gerbang sekolah saja. Akhirnya aku pun berpamitan dan lansung menuju ke ruang guru.
“Permisi” aku pun masuk ke ruang guru.
“Iya ada apa nak?” jawab salah seorang guru disana.
“Saya murid pindahan dari Surabaya pak” jawabku
“Oh kamu murid pindahan itu?” ucap guru itu sambil mengangkat buku bukunya.
“Iya pak” jawabku lagi.
“Sini bapak tunjukkan mana ruang kelasmu” guru itu pun keluar dan menuju salah satu ruang kelas.Tepat didepan ruang kelas lain kulihat ada lelaki yang terburu-buru masuk ke dalam kelas dengan berlari kecil. 
“Itu kan lelaki yang bertabrakkan denganku saat dibandara” gumamku dalam hati.
“Adrian lagi lagi kamu telat” ucap guru yang lagi bersamaku tadi.
“Iya maaf pak, saya janji saya nggak akan telat lagi” ucap lelaki itu.
“Jangan berjanji hal yang tak bisa kamu tepati, Adrian. Yasudah cepat masuk kelasmu sana” menunjuk kearah kelas lain.
Ia pun melanjutkan masuk ke kelas dan melanjutkan berbicara.“Anak-anak kita kedatangan murid pindahan dari Surabaya, cepat masuk sini perkenalkan dirimu” Ucapnya
Aku pun segera masuk dan memperkenalkan diri “Hai. Namaku Luna Putri. Kalian bisa panggil aku Luna. Salam kenal” ku bungkukkan sedikit badanku seperti memberi salam.
“Salam kenal” teman sekelas menyapaku.
“Baiklah kamu bisa duduk disana” menunjuk kearah kursi yang masih kosong.
“Ah akhirnya aku duduk juga” ucapku lega dalam hati. 
Tiba-tiba teman sebangkuku mengajakku berbicara.“Kamu pindahan dari Surabaya?” tanyanya.
“Iya” jawabku tersenyum
“Oh, jauh juga ya. Kenalin aku Chyntia” jawabnya dengan senyuman manis dan mengulurkan tangan.
“Hehe iya. Aku Luna” kita pun bersalaman dan pelajaran pun dimulai.
     Bel istirahat pun berbunyi saatnya kita istirahat.“Kamu mau ikut beli makan nggak Lun?” ajak Chyntia.“Oh iya, aku ikut sebentar ya” aku pun bergegas merapikan buku yang ada di meja.Saat dikantin, kulihat lelaki itu duduk diujung kantin sambil membaca buku, dan sepertinya ia baru selesai makan. Aku dan Chyntia pun segera memesan makanan dan memakannya bersama. 
     Kringg.. Bel masuk berbunyi aku dan Chyntia pun bergegas menghabiskan makanan kita dan kembali masuk ke kelas.
     Bel istirahat pun berbunyi lagi. Chyntia mengajakku ke Mushola sekolah untuk sholat Dzuhur bersama yang lain. Aku pun segera mengambil air wudhu dan sholat bersama. Setelah sholat Chyntia mengajakku berkeliling sekolahan, ia memberi tau tempat tempat disekolahan itu. Dan akhirnya aku dan Chyntia pun memutuskan duduk duduk di taman sekolah. Dan di tempat itu aku melihat lelaki itu lagi. Aku pun coba memperhatikannya, meyakinkan bahwa dia adalah orang yang sama saat dibandara. Tiba-tiba Chyntia membangunkanku dari lamunan.
“Ngapain kamu ngeliatin Adrian kaya gitu?” tanyanya kebingungan.
“Adrian? Oh itu namanya” ucapku dalm hati.
“Hei Lun? Kok malah bengong?” katanya makin melihatku aneh.
“Hm.. Nggak papa kok Chyn” jawabku cepat. 
Karena bel sudah berbunyi akhirnya kita kembali kekelas.
     Akhirnya bel pulang sekolah yang sangat ditunggu pun berbunyi. Seperti disekolah lain, semua anak pasti buru-buru pulang atau kumpul bareng sama temen-temennya. Tapi aku? Aku malah tak tau harus pulang dengan apa. Kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 4 sore. Akhirnya aku pun memutuskan pulang dengan taxi. Saat aku menunggu di depan gerbang sekolah, tiba-tiba dari belakang ada yang memegang pundakku.
“Hai Lun, kamu nunggu apa?” katanya sambil melepas helm yang ia gunakan.
“Ini nih aku lagi nunggu taxi, tapi belum dateng dateng juga” sambil nengok kearah kanan sapa tau ada taxi lewat.
“Bareng sama aku aja gimana?” ucapnya menawarkan.
“Nggak papa nih?” kataku sambil memerhatikan mukanya.“Sepertinya aku tau orang ini” bisikku dalam hati
“Iya nggak papalah, ayo” sambil menyalakan motornya.
“Tapi helmnya gimana?” kataku.
“Aku mesti bawa helm dua kok, nih” ucapnya sambil memberikan helm padaku.
“Beneran nggak papa nih?” jawabku sambil mengambil helm yang ada ditangannya.
“Iya nggak papa Lun. Ayo naik mau mendung nih” ucapnya.
Aku pun lansung duduk dibelakangnya dengan posisi miring sambil memangku tas. Diperjalanan ternyata cuaca tidak mendukung. Tetes air hujan pun mulai turun dan membasahi tubuh. Akhirnya ia pun menaikkan kecepatan motornya.

Ingin tau siapa lelaki itu?
Apa itu lelaki yang sama saat di Bandara?
Tunggu kelanjutannya ya readers^^

Jangan asal copas ya readers, buat cerita itu nggak segampang copy paste :)
Kalau mau nampilin cerita jangan lupa masukin nama pengarang ya:)
Trimakasih^^

LUCI 

Minggu, 18 Januari 2015

Hidup


Untukku hidup adalah perjalanan, petualangan atau cara lain tuhan memberi tahu aku bagaimana cara bersenang-senang. Aku tahu pasti tuhan akan menentukan tujuan hidupku. Aku tidak perlu mencarinya. Aku hanya harus menunggu Ia menunjukkannya..

Kehidupanku diawali dari sebuah kelahiran. Penuh rasa ingin tahu tapi juga kebingungan. Akan kemana? Menjadi apa? Sampai Tuhan memberiku petunjuk-Nya satu persatu.


Awalnya petunjuk itu tampak seperti benang kusut untukku. Aku bisa menyentuhnya tapi sulit untuk menentukan ujungnya. Mungkin agar aku bisa mengurainya secara berurutan. Aku bahkan sempat mengira semuanya adalah bencana. Lalu tuhan membantukku untuk mengurutkan semuanya, menempatkan segala peristiwa yang diberikan-Nya sebagai reaksi berantai. 


By Indi Sugar

Introducing Me

Hello readers!^^
It's my first post. Let me introduce my self. . .

But, In first time! 
Thanks a lot for readers yang telah meluangkan waktu untuk sedekar baca post aku dimanapun kalian berada
Seperti yang tertulis dalam judul post ini yaitu "Introducing Me"

Perkenalkan Aku ...
Aku adalah 1 diantara jutaan gadis di dunia yang berusaha meraih mimpi.
I'm a dreamer, yeah Big dreamer!!!
Impian itu penting! Impian itu perlu!
Why? Because that's at all are the reason why we life in this world
Impian itu layaknya Visi kita, dan bagaimana kita menggapainya dengan berbagai Misi yang ada dalam benak kita.
" Visi bisa jadi adalah kekuatan terbesar kita. Ia selalu membangkitkan daya dan kesinambungan hidup. Ia membuat kita memandang masa depan dan memberi kerangka tentang apa yang belum kita ketahui." Li Ka Shing, Milyuner Hongkong.
Maka dari itu janganlah hanya jadi seorang pemimpi. Tetapi, Berusahalah menjadikan impian menjadi kenyataan. Harapan akan selalu menyertai usahamu. Jika Usahamu Keras maka Harapanmu juga akan besar...

Okey.. Saatnya memperkenalkan^^
Readers bisa panggil aku Luci (Lusi) walaupun biasanya aku dipanggil dengan banyak sebutan sih hehe
Seperti yang dikutip dari kata kata bersejarah yangmengatakan "What is in a name ?" atau "Apalah Arti Sebuah Nama"
Bagiku nama juga sangat penting seperti halnya mimpi!
Nama diberikan tidak dengan tanpa alasan! Pasti ada. Alasan itu penuh dengan pertimbangan. Jika kalian bisa berpikir dewasa, Nama beralasan dari sebuah do'a. Jadi, Nama bisa berarti sebuah do'a yang diberikan kepada kita.
Think Again...

Kenapa aku bikin blogger?
Mungkinkarna diawal tahun ini aku jadi suka puitis atau ngutip dari kata kata novel jadi ada beberapa temen nyaranin bikin blogger and than hari ini aku bikin hihihi
Karena tidak mudah untuk menuliskan ucapan. Jadi mohon bantuannya^^
Dan maaf kalau ada cerita atau ulasan yang kurang berkenan.

Sekian awalan dariku. Thankyouuu dan tunggu post selanjutnya ya^^




Luci


 

Dunia Kecil Lucita Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez