Senin, 25 April 2016

Malam rindu

Kupandangi langit malam ini. Malam ini bulan tak malu malu menunjukkan wujudnya, ia menunjukkan wujudnya. Kutatap bulan yg berbentuk lingkaran itu. Cahaya nya sangat lah terang untuk malam ini. Dan beberapa bintang pun ikut menemani bulan diatas sana. Malam ini langit terlihat sangat cantik dengan taburan cahaya bintang dan cahaya bulan yg sangat terang. Angin malam ini pun terasa sangat sejuk tak seperti hari biasanya. Malam ini terasa sunyi ya bahkan sangat sunyi mungkin karena jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Tapi entah kenapa aku masih duduk terpaku di kursi lantai atas rumahku, ya tepatnya di balkon kamarku yg berada di lantai atas. Aku cukup sering melihat suasana malam dari tempat ini. Dan kali ini suasana cukup sepi bahkan tak terdengar suara orang yg biasanya sedang berjualan keliling disekitar kompleks. Aku pun memasang earphone yg sedari tadi kutaruh di meja dekat ku. Lagu pun terputar dan menemani malam panjang ku ini. Seketika lagu dari tulus yg berjudul teman hidup pun mulai bernyanyi. Aku pun kembali dibawa oleh arus ingatan itu lagi, dimana kamu adalah pemeran utamanya. Entah kamu ingat atau tidak tentang kejadian itu, tapi kejadian itu masih terngiang di fikiranku. Saat itu kita sedang menghabiskan waktu bersama. Ya tepatnya di balkon kamarku ini kita berada. Kita yg saat itu berniat untuk mengerjakan tugas bersama mulai lelah dengan semua pr yg ada. Dan kita pun miulai menghabiskan waktu di tempat ini. Kau yg membawa gitar akustikmu pun mulai menarikan jari jemarimu diatas senar senar gitar itu. Iringan gitar itu terasa sangat indah malam itu bahkan sangat indah menurutku. Langit yg bertabur bintang pun hanya bisa menjadi saksi bisu betapa aku sangat menyukai malam malam panjang bersamamu. Kita yg duduk menatap langit sambil berkhayal tentang masa depan yg indah, tentang masa depan yg menyenangkan, tentang masa depan kita sendiri yg gemilang seperi bintang di atas sana. Lalu mata kita terfokus pada satu bintang yg sangat lah terang. Ya diatas sana memang ada satu bintang yg paling gemerlap. Entah apa yg saat itu kau katakan aku tak seberapa mendengarnya. Yg aku dengar hanyalah ucapan "terimakasih kau telah jadi seperti itu. Terimakasih kau telah menjadi penerang saat malam" ucapan itu terdengar sangat lirih tanpa menoleh ke arahku, tapi setelah kau selesai berbicara kau tiba tiba menoleh ke arah ku dan ada garis simpul diwajahmu yg aku tak tau apa artinya. Aku pun segera membalas senyuman itu. Seketika gitar yg sedari tadi kau taruh kembali kau ambil. Dan lagu dari tulus yg berjudul teman hidup mulai kau nyanyikan. Malam itu kita hanyut dalam suasana yg kita buat. Dari lagu itu entah kenapa aku merasa kau menekan kan beberapa kalimat "Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku" ya kalimat itu. Seketika kau selesai menyanyi mata itu seketika berubah, mata itu seprti ingin mengatakan suatu hal. Tapi hingga beberapa menit setelahnya pun kau tak juga bersuara. Tiba-tiba kau pun berpamitan untuk pulang karena sudah terlalu malam. Entah apa yg ingin kau utarakan, entah apa yg kau rasakan, aku tak pernah tau karna kau tak juga mengatakannya hingga kini. Dan kini semuanya terasa beberbeda. Kita yg sedang sibuk untuk mendaftar ke jenjang selanjutnya tak pernah bisa menghabiskan waktu seperti dulu, bahkan untuk berkomunikasi pun sudah sangatlah jarang. Kau tau aku rindu menatap langit bersamamu, walaupun dari jauh dan hanya melalu telfon aku sudah sangat senang. Aku merindukan itu dan kini kita sibuk dengan cita cita kita sendiri. Tapi aku percaya kamu akan kembali melihat bintang bersamaku walaupun bukan waktu dekat ini. Terimaksih
Untuk lelaki yg melihat bintang dari tempat lain
Dari gadis yg menunggu telfon demi melihat bintang bersamamu

Maaf kalau post nya ngga jelas dan ngga ada feel nya. Maafkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Dunia Kecil Lucita Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez