Dari gadis yang masih sering mengingat waktu yang berjalan denganmu.
Untuk lelaki yang menemaniku diayunan
Detik demi detik
berganti, jam pun silih berganti, hari pun tak mau kalah ikut berganti.
Perlahan kupandangi taman kosong ini. Taman yang sangat sejuk dan indah. Taman
yang berisikan hijaunya daun yang terpotong rapi, kursi taman yang membisu, dan
ayunan yang bergerak karna tiupan angin. Aku pun duduk di salah satu ayunan
yang sedari tadi tak berhenti bergerak. Kupandangi indahnya sore hari ini, dari
sini.
Angin yang sedari
tadi bertiup membuatku kembali membuka memori itu. Memori yang berisikan
tentang kamu dan aku, yang pernah jadi kata “Kita” walaupun belum dalam ikatan
status. Semua hembusan angin ini, makin lama makin membuat perasaanku semakin
dalam.
Aku pun mulai
hanyut dalam perasaanku sendiri. Aku mulai membuka memori itu lagi. Memori
dimana kita bersama. Aku pun kembali teringat saat pertamakali kita dekat, saat
salah satu dari kita cemburu dalam diam, saat kita tertawa bersama, saat kita
berselisih, saat hari hari itu kita lalui bersama. Hingga sekarang kurasa
memori itu masih tersimpan rapi dalam ingatanku.
Dan kondisi
seperti ini, makin membuatku ingat kejadian saat itu. Hari dimana kau dan aku
menghabiskan waktu bersama dari pagi hingga malam. Kita yang saat itu mengikuti
kegiatan sekolah saling berharap untuk menghabiskan waktu bersama. Kau yang
berharap bisa duduk bersamaku saat di bus tapi kejadiaan itu tak pernah terjadi
karna dirinya. Dia yang menjadi sahabatku sedari dulu, dan dia juga yang telah
jatuh hati kepadamu. Aku pun harus merelakan semuanya, termasuk jawaban “Iya”
untuk mu demi dia. Jawaban yang seharusnya aku jawab saat di ayunan denganmu.
Dan aku pun menolakmu demi menghargai perasaannya, karna saat itu aku berharap
aku bisa menyelesaikan permasalahanku dulu sebelum itu terjadi lagi. Aku tau, kita
hanyalah seorang remaja yang sedang jatuh cinta, yang berharap waktu akan
berhenti saat kita bersama. Tapi aku tau itu takkan mungkin terjadi.
Entah mengapa
semakin mengingat memori saat itu, aku semakin merindukanmu. Merindukan semua
hal yang kau lakukan saat itu, saat bermain ayunan, saat kita tertawa bersama,
saat kita berlari ke bus, saat kau membuatku sadar dari tidurku, saat kau memainkan
jemariku, mata teduh itu, rambut itu, dan tangan itu, aku sungguh
merindukannya. Ya, tapi aku sadar semua itu takkan terjadi lagi. Takkan ada
kesempatan lagi. Aku pun mulai menghapus air yang membasahi pipiku saat ini,
yang sedari tadi membuat mataku panas dan dadaku sesak.
Aku pun kembali
mencoba menerawang kedepan dengan tatapan kosong. Aku berfikir bagaiman kamu
yang sekarang. Apakah kau sudah menemukan yang lain? Karna kuingat kita sudah
lama tak bertegur sapa dan berkomunikasi seperti dulu. Dan akhirnya aku pun
mencoba mengecek semua akun social yang kau miliki. Alhasil semua itu makin
membuat perasaanku jatuh semakin dalam ke sebuah lubang. Setelah aku tau bukan
aku lagi yang kau mau, bukan aku lagi orang yang kau harapkan, bukan aku lagi
orang yang kau sayang. Dan semua itu makin membuatku yakin bahwa kau telah menemukan
yang lain, dan kau telah bahagia dengannya.
Dan sekarang
tugasku untuk benar benar menghapus perasaan ini. Perasaan yang aku sendiri
pernah jatuh kedalam nya dengan cukup dalam. Aku pun mulai bertekad untuk
menghapus perasaan itu, dan berharap semua masih bisa seperti dulu, bukan
seperti orang yang tidak kenal.
Aku pun kembali
pulang karena matahari sudah mulai menghilang ditelan gelapnya malam, dan
kuharap seiring itu pula aku bisa menghilangkan perasaanku padamu. Aku pun
segera masuk ke kamar dan mulai membuka buku pelajaran untuk besok. Tapi,
kenapa tiba-tiba ada namamu dilayar handphone ku? Kenapa kau kembali datang
setiap kali aku bertekad melupakanmu? Apa maksud semua ini?
Jangan asal copas ya readers, buat karya itu nggak segampang copy paste :)
Kalau mau nampilin karya ini jangan lupa masukin nama pengarang ya:)
Trimakasih^^
LUCI ♡
Tidak ada komentar:
Posting Komentar