Sabtu, 27 Agustus 2016

Iseng

Untuk kamu, Yang sempat hadir.

Apa kabar? Sudah lama kita tak jumpa. Jangankan berjumpa, saling sapa pun sudah tidak. Aku maklumi itu semua. Aku menghargai kehidupanmu, dan kau? entahlah masih peduli dengan hidupku atau tidak.
Mungkin kamu akan bertanya, kenapa aku menulis ini semua? Jika kau mengira, karena aku ingin mencuri perhatianmu tentu tidak. Untuk apa. Lalu jika kau mengira, aku ingin mendramatisir keadaan itupun tidak. Sama sekali tidak.
Aku menulis semua ini hanya karena rindu. Tak pernahkah kau merasakannya juga? Aku harap kau sempat merindukanku walau hanya semalam. Setidaknya kau mengingat bagaimana aku tertawa lalu menangis. Setidaknya kau mengingat bagaimana susahnya berusaha dan mudahnya menyerah.

Cinta kita hanyalah cinta monyet. Cinta yang tumbuh dibawah atap sekolah. Cinta yang terus tumbuh hanya karena memandang dari jauh. Cinta yang terus tumbuh ketika kita bertukar sapa dan senyum. Cinta yang terus tumbuh karena pipiku merona setiap kali mendengar namamu. Manis. Aku masih bisa merasakannya walaupun hanya sedikit mengingatnya.
Aku masih ingat betapa lucunya saat pertama kali aku melihatmu. Kita terlihat canggung. Lalu saling tersenyum sesudahnya.
Aku juga masih ingat betapa indahnya hujan kala itu. kau terus melajukan motor dengan cepat agar aku tidak lama terkena hujan. Aku hanya bisa bersembunyi sambil mengeratkan pelukan dibalik punggungmu. Kau tidak tahu, seberapa banyak aku tersenyum saat itu..

Aku tidak peduli, apakah aku cinta pertamamu atau bukan. Aku menyimpan memori dalam hidupmu atau tidak. Yang aku tahu aku merasakannya. Cukup aku.
Kau juga bukan kekasih pertamaku atau kedua. Tapi percayalah. Kau membuatku mengenal banyak hal untuk pertama kalinya. Kau membuat aku belajar untuk pertama kalinya.
Kau orang pertama yang membuatku merasa berharga dan merasa dihargai. Kau membuat aku merasa bahwa aku adalah seseorang yang patut diperjuangkan. Bukan orang yang selalu menunggu, menanti bahkan meminta.

Untuk kamu, yang sempat hadir.

Maaf aku sempat membuatmu muak. Dengan sikapku yang kekanak-kanakan. Yang sering mengeluh, yang sering berdrama dengan segala masalah. Kau selalu mengingatkanku. Dan lagi, aku terlambat menyadarinya. Aku tau aku salah, tapi siapa yang peduli saat itu. Yang aku tau hanya, cinta itu menyakitkan ketika kamu pergi. Itu saja. Bodoh? Iya. Sangat bodoh. Kadang aku pun hanya tertawa bila mengingatnya. Perjalanan kita amat sangat lucu ternyata.

Aku ingat, kita memulai dengan cara yang salah. Entah aku, atau kamu. Tapi aku tak ingin menyalahkan siapapun, karena untuk masalah perasaan semua orang akan merasa benar. Meskipun penuh kebohongan dan ketidakpedulian. Cukup aku saja yang tau maksud semuanya.

Perjalanan memang kadang membuat aku terbang lalu jatuh. Dan terimakasih, kamu telah menjadi perjalananku. Hidup kadang terasa manis seperti gulali yang aku beli di taman hiburan, tapi ada masanya terasa pahit sama seperti aku yg tidak sengaja menyesap ampas kopi. Dan kamu telah menjadi keduanya di saat yang bersamaan. Sekali lagi, terimakasih. Untuk pernah hadir lalu pergi. Dan untuk sempat memulai lalu mengakhiri.

Untuk kamu, yang sempat hadir.

Aku tadi bilang bahwa aku merindukanmu, tapi setelah aku menulis ini semua aku tak lagi merasakannya. Aku sedang tersenyum, percayalah. Aku bahagia. Tak perlu aku yang merindukanmu lagi. Tugasku sudah cukup. Tugasku kini pergi lalu menghilang. Untuk tak saling mengenal akan lebih baik, mungkin? Hahaha aku hanya bercanda. Aku tidak kekanak kanakan lagi. Aku hanya berharap aku dan kamu baik baik saja. Kita bahagia bersama, di jalan yang berbeda.
Dan harapan terakhirku adalah suatu saat aku dapat bertemu kamu, dengan senyuman. Tak ada lagi kecanggungan. Lalu berbincang. Dan aku akan mengenalkan seseorang padamu. Dan sebaliknya.
Iya, seseorang yang aku kenalkan adalah orang yang membuat aku tersenyum setelah kamu membuat aku menangis. Dan kamu, mengenalkan seseorang yang kamu ajak tersenyum ketika aku sedang menangis.

Untuk kamu. Yang sempat hadir.
Aku merasa cukup. Dan aku pergi.

- Jihan E. Mufidah -

Jumat, 26 Agustus 2016

Percakapan

***Percakapan***
Cwe : hay aku suka kamu..!
Cwo :iya
Cwe : kamu suka aku tdk..??
Cwo : (tdk ada jwbn) . . .
Cwe : (diam)
Cwo : knp kamu suka aku..??
Cwe : aku jg tdk tau..perasaan inii muncul begitu saja..
Cwo : ooh..pasti kamu suka banyak cwo'kan..bkn cmn aku..?
Cwe : hmm bagaimana bisa aku menyukai banyak cwo' sementara menyukai 1 cwo' saja aku tak tau alasan mengapa aku menyukainya(kamu)...
Cwo : ooh gitu..tp kamu pasti suka berkomunikasi sama banyak cwo'kn..
Cwe : mm iya..tp klw itu hal yg penting dan wajar..
Cwo : knp setiap aku komunikasian sama kamu gaya bhsmu berubah-ubah..?
Cwe : itu karena aku takut..
Cwo : maksudnya..?
Cwe : yang suka kamukan bkn cmn aku..banyak cwe" yang suka sama kamu bahkan itu tmn kamu sendiri..kamu mungkin tdk sadar tp aku merasakan dia juga suka kamu..itu sebabnya saat aku komunikasian sama kamu dit4 umum gaya bahasaku hanya sekedar spt tmn saja(tdk menunjjukkan aku suka kamu)...
Cwo : ooh begitu.
Cwe : iye
Cwo : kenapa kamu jarang sms aku..katanya cinta..?
Cwe : itu karena aku tdk mau menggangu kamu.
Cwo : klw aku juga cinta kamu..bagaimana..?
Cwe : aku senang ternyata cinta ku selama inii tdk bertepuk sebelah tangan..
Cwo : terus klw aku cinta kamu apa yg akan kamu lakukan..
Cwe : tdk ada..
Cwo : apa kamu tdk mau pacaran..kan sama" cinta..
Cwe : kenapa harus pacaran
Cwo : jadi kamu tdk mau pacaran..percuma donk..
Cwe : kalau misalkan kamu benar" cinta aku..Aku akan menunggumu sampa'i kamu siap menjadi imam ku.
Cwo : oO jadi serius kamu tdk mau pacaran.
Cwe : iya..cinta akan lebih indah saat cinta itu terikat dlm satu ikatan resmi(bkn pacaran).

Minggu, 14 Agustus 2016

Hujan

Hujan datang, dan membawa ingatan masa lalu tersendiri buat seseorang, termasuk pula aku. rintik demi rintik hujan pun membuatku ingatanku semakin tajam oleh sosokmu. Sosok lelaki yang pernah berada dalam dekapanku, tapi kini aku bahkan tak tau kabar tentang dirinya. Rintikan hujan ini membuatku mengenang tentang sosokmu lagi, sosok orang yang sempat menjadi kata kita saat itu. Aku merindukan setiap detik yang terlewat denganmu. Ingatkah kamu saat aku bermain dibawah rintiknya hujan saat itu? Berjalan, berlari, tertawa, menari dibawah rintikan hujan saat itu, yang akhirnya sukses membuatmu ikut bermain dibawah rintikannya. Dan kau hanya berdecak bahwa aku adalah gadis kecilmu, yang selalu terlihat menarik dengan segala tingkah yang aku lakukan. Kau tau bahwa aku selalu menyukai hujan, karna setelah itu akan akan bisa melihat pelangi yang indah, dan disaat hujan kita dapat masuk kedalam atmosfer dimana kamu bisa mengenang seseorang dengan sangat nikmat. Tapi, saat itu berbeda, aku sangat menyukai hujan karena kamu ada bersamaku didalamnya. Menikmati setiap tetesan hujan yg mengenai tubuh hingga akhirnya badan kita menjadi basah, tertawa seakan kita takkan bertemu dihari esok, menggenggam satu sama lain seakan kita takingin saling kehilangan, dan rintikan hujan inilah yang menjadi saksi bisu tentang kita. Aku merindukan itu semua. Terkadang aku birfikir, apakah kita bisa mengulang saat saat itu lagi? Masa dimana kita bersama, masa dimana kita saling takut kehilangan, dan masa dimana kita saling berjuang bersama bukan hanya aku yang berjuang. Aku merindukan tetesan hujan yg membasahi rambutmu, aku merindukan memeluk baju yg basah itu dengan aroma tubuhmu yang menyelimutinya, aku merindukan wajah itu yang tak pernah berhenti melukiskan senyuman. Dan kini aku berada dibawah rintikan hujan, tanpamu. Tanpa lelaki yang dulu selalu disampingku. Sekarang aku berdiri disini sendiri. Aku memainkan permainanku dibawahnya tanpamu lagi. Dan hingga saat ini, aku masih menyukai hujan walaupun tak ada kamu didalamnya. Kau tau kenapa? karna disaat hujan aku bisa menangis, tanpa ada seorangpun yang tau jika aku sedang menangis dibawah rintikan hujan.

"Aku" "Kamu"

Aku? Aku adalah kosakata yang terkadang terasa menyedihkan ditelingaku. Kata yg selalu membuatku pilu. Kata yang selalu membuatku berfikir ribuan kali tentang apa yang akan terjadi tentang kedepannya. Kata yang mungkin terasa hambar beberapa waktu kemarin.
Dan kamu? Kamu adalah satu dari jutaan kosakata yang sangat aku sukai. Kata yang sempat menjadi tujuanku. Kata yang memberiku semangat tersendiri saat mendengarnya. Kata yang menjadi tujuan dari petaku. Kata yang berhasil merubah sebagian dari diriku. Kata yang membuatku sadar akan beberapa hal. Kata yang selalu membuatku terhipnotis kearahnya. Kata yang ketika aku mendengarnya rona merah dan setengah lingkaran itu terpancar diwajahku secara tak sadar. Dan kata yg tak ada hentinya jika aku menelaskannya.
Tiba-tiba kata “kamu” dan “aku” berubah menjadi kata “kita”. Kata yang sebelumnya tak kukenal di kamusku, tapi berhasil membuatku terjerumus kedalamnya. Aku terobsesi dengan kata “kita”. Aku terlalu berharap kedalamnya. Aku terlalu mengharapkan kata “kita” yang abadi. Aku terlalu berharap hingga aku lupa akan batasanku. Aku menyangi kata “kita” lebih dari kata “aku”. Dan kata “kita” inilah yang berhasil merubah duniaku. Dunia yang dulunya hanya berwarna hitam dan putih untuk mengisi hariku, dan sekarang berubah menjadi puluhan warna yang terlihat sangat menarik. Bahkan aku merasa warna warna itu begitu indah, lebih indah dari warna yang biasanya kujumpai.

Tapi tiba-tiba waktu merubah kata “kamu” menjadi sosok aneh, menjadi sosok yang dingin. Dan aku kira aku tau penyebabnya. Dia adalah kosakata yang sangat aku benci. Bahkan benci untuk sekedar mendengarnya. Kata “dia” dapat merubah kata “kamu” menjadi kata yg tak aku kenal sebelumnya, bahkan kata yg dulu sangat kita tak inginkan yaitu kata “kalian”. Kata “dia” adalah kata yg dulu pernah kau takuti untuk berada diantara kata “kita”, tapi kata “dia” lah yang dapat merubahmu menjadi sosok yang tak aku kenal. Merubah kata “kita” menjadi kata “kalian”,dan merubah kata “aku” menjadi kata “dia” didalam kamus besarmu.

Sabtu, 13 Agustus 2016

219/366

Kulihati langit kamarku ini. Pikiranku pun ikut melayang layang memikirkan semua hal tentangmu. Kamu, entah kenapa kata itu selalu menarik pikiranku. Bahkan terkadang aku memikirkan kenapa bayangmu selalu memenuhi pikiranku. Kamu bukanlah orang hebat, bukan pula orang yang terpandang, tapi kenapa selalu kamu yang aku pikirkan?
Kamu? Entah apa yg bisa aku banggakan dari sosokmu,aku tak mengerti. Kemarahan itu mengancurkan semua yg aku percaya. Kesedihan itu perlahan menghapus semua hal manis tentang kita. Dan kekecewaan itu yang membuat aku sadar bahwa semua yg aku percaya tentang mu adalah omong belakang seseorang lelaki yg sedang jatuh hati. Aku mengingat ingat semua yg pernah kau katakan , ku mengingat ingat semua yg kau lakukan, entah mana yg harus aku percaya. Apakah aku harus percaya dengan semua perilaku manismu terhadapku atau perilaku busukmu dibelakangku? Apa kau tak sadar aku selalu memperhatikanmu? Apakah kau sadar akan itu? Hingga kau menggunakan kesempatan itu untuk semakin dekat dengannya? Apakah kau tak sadar dari awal aku sudah tau semua itu, tapi aku selalu menunggu agar kau sendirilah yg akan bercerita padaku, pada orang yg saat itu berstatus pacarmu. Sadarkah kau semua itu sayang? Kurasa tidak, kau hanya lelaki yg mengandalkan semua cara untuk menutupi hal busukmu.
Entah sejak kapan lelaki yg berada didekatku saat itu, berubah jadi lelaki berhidung belang yg tak pernah mengerti perasaanku. Aku selalu melihat semuanya, aku selalu mendengar semuanya, tapi kenapa tak sekalipun ucapan jujur itu ku dengar dari mulut manismu itu? Kenapa kau sembunyikan semuanya? Apa yg kau tunggu? Tau kah kau, semakin lama aku semakin terluka? Ya, aku tau kau tak pernah perduli denganku, bahkan tak pernah tau tentangku. Kemana perginya lelaki yg saat itu bersamaku? Kemana perginya lelaki yg selalu membuatku nyaman? Kemana perginya lelaki yg selalu bisa aku percaya? Kemana perginya sosok itu? Kenapa sekarang hanya ada lelaki jahat yg ada didepanku mataku? Aku merindukan sosokmu yg dulu, sosok orang yg selalu bisa aku banggakan, aku kagumi, dan aku sayang. Tapi kenapa sekarang semua itu tak terlihat lagi? Semuanya musnah karna hal yg aku yakini yaitu dia. Entah adilkah aku menganggap dialah penyebab dari hancur nya semua ini. Entah adilkah menyalahkan seseorang yg bahkan kau tak pernah mendengarkan pembelaan darinya. Aku pun tak pernah memikirkan itu. Yg aku tau lelakiku sudah benar benar membuatku kecewa. Semua yg ia katakan ternyata hanya kata kata manis dari mulut orang yg tengah mabuk. Dan entah kenapa kenapa aku selalu mempercayai dan bersepakat tak akan melanggarnya. Sedangkan kmu, kamu lah yg melanggar semua yg kau ucapkan sendiri, semua aturan yg kau ucapkan sendiri, semua aturan tak tertulis yg selalu kau ucapkan untuk mengingatkanku. Aku ingat betul, kau selalu mengingatkanku untuk saling terbuka, untuk saling menceritakan keluh kesah yg kita alami, untuk saling bercerita semua hal yg terjadi pada kita , untuk saling jujur dan tak ada yg ditutup tutupi, tapi apa kenyataannya, apakah kau melakukan itu? Apakah lelakiku melakukan apa yg ia ucapkan? Kenapa itu semua hanya ucapan yg tak ada buktinya? Aku juga masih terngiang omonganmu untuk mengingatkanku , jangan ada orang ketiga diantara kita, jangan ada orang lain yg bisa ngerebut hati salah satu diantara kita, jangan biarkan ada spasi untuk diisikan oleh orang ketiga. Tapi apa, apa nyatanya? Kenapa kau langgar? Kenapa semua omonganmu hanya berlaku untukku ? Adilkah itu? Aku slalu mentaatinya, aku slalu berusaha tak pernah melakukan hal yg membuatmu terluka bahkan kecewa, tapi kenapa kau begitu kejam melakukan semua itu padaku? Melakukan semua hal yg katanya itu membuat trauma, membuatmu takut, tapi kenapa kau lakukan padaku? Kenapa sosok lelaki yg aku sayang begitu jahat kepadaku?
Aku selalu percaya padamu, aku slalu yakin dengan mu, tapi kenapa sekarang kau membuktikan padaku bahwa kau tak pantas untuk aku percaya?
Dari : gadis yg selalu memperhatikanmu
Untuk: lelaki yg tak pernah menyadari diriku

Malaikat?

Percakapan seorang lelaki dengan perempuan.
Cewe: siapa kau?
Cowo: aku adalah malaikat
Cewe: malaikat?
Cowo: iya betul
Cewe: apa buktinya kau seorang malaikat? Bahkan kau tak memiliki sayap? dan kenapa kau ada dibumi?
Cowo: menurutmu kenapa?
Cewe: kan saya tak tau, jadi saya bertanya
Cowo: aku melepaskan sayapku agar bisa jatuh dibumi dan aku akan tinggal disini.
Cewe: kenapa begitu?
Cowo: karna aku ingin melindungi sesrorang disini,aku ngga pingin liat dia sedih, sendiri, tersiksa dll. Aku ingin selalu menemaninya.
Cewe: dengan cara?
Cowo: merelakan sayapku dan tinggal disini untuk melindungi gadis kecil ini.
Cewe: pasti gadis kecil itu sangat beruntung memiliki malaikat yang rela berkorban seperti mu.
Cowo: benarkah? Apakah perasaanmu seprti itu?
Cewe: jika itu aku, aku akan merasakan seprti itu
Cowo: kau tau, gadis kecil itu adalah kau.
Hanya sebuah dialog hayalan kita dahulu. Kau adalah lelaki yg menggap dirimu seorang malaikat, yang bersedia turun kebumi dan mengorbankan sayapmu untuk berada disisiku, untuk menemani gadis kecil yang belum mengenal dunia fana ini. Terimakasih telah membuat hayalanku, anganku hidup. Walaupun hanya dalam sekejap mata semuanya berakhir.
 

Dunia Kecil Lucita Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez