Untuk Laut, yang kuat dan telah berhasil membuat batu karang berlubang.
Hujan dimalam hari ini, membuatku kembali membaca ulang semua percakapan kita. Percakapan disaat kamu dan aku masih saling peduli dan dekat. Aku pun tertawa geli saat membacanya, walaupun diam diam hati ini teriris mengingat bahwa hal manis itu sudah takkan terjadi lagi. Tak mungkin aku berharap bahwa kamu akan berubah menjadi pria yang dulu kukenal. Kenyataannya kamu bukanlah orang yang dulu kukagumi, kamu berubah menjadi orang yang tak kukenal.
Aku masih mengingat benar wajahmu, mata mu yang teduh, bibir yang tipis yang aku biarkan terus berkata meskipun kadang aku tak memahami apa yang kau katakan. Aku masih ingat betapa suara beratmu merasuk kedalam telingaku, membisikkan hal-hal yang sebelumnya tak pernah ku dengar. Aku masih menyimpan memori ketika kamu menggunakan kaos coklat, saat kau berjalan denganku, saat kau mengatakan itu dan banyak hal yang jika semakin kuingat, itu hanya membuat dadaku semakin terasa sesak. Aku tak sadar mengapa perkenalan kita sukses membuatku berharap terlalu jauh pada sosok yang sempurna sepertimu?
Kamu adalah pria yang luar biasa, yang diceritakan begitu sempurna dalam film dan rangkaian peristiwa drama, sedangkan aku hanya gadis lugu yang hanya berani melihatmu dari kejauhan. Aku pernah berharap tidak akan terbangun dari mimpiku, yang akan menyadarkanku bahwa mendekatimu adalah sebuah khayalan yang terlalu tinggi.
Ternyata semua itu benar, kau tak sejauh matahari, dan kau bukanlah ilusi. Aku semakin dibuat terpesona oleh semua usahamu. Tapi, aku tak paham apa yang membuatmu seperti ini, aku tak tau kenapa kau bisa percaya dengan hal yang tak pasti, dan kenapa kau tak menanyakan semua itu dulu kepadaku? Aku tak tau mengapa hubungan yang awalnya main main ternyata bisa menimbulkan luka yang cukup dalam bagiku.
Mungkin memang, semua ini terlalu cepat bila harus berakhir. Aku sedang dipuncak-pucak sayangnya padamu, tapi kamu malah mendorongku jatuh kedalam jurang, jatuh senidiri kedalam tempat yang gelap dan kamu tertawa seakan tidak melakukan kesalahan. Ini terlalu cepat, Laut. Perempuan yang kau anggap batu karang ini masih ingin disini, masih ingin bertahan. Tapi kudengar kau telah dengan yang lain? Apa yang harus kulakukan? Aku tak punya status denganmu, dan menangis pun rasanya percuma.
Aku tak pernah membencimu.,tapi aku hanya benci jika hari-hariku tanpamu.
Aku tak pernal menyesal pernah mengenalmu, tapi aku hanya menyesal mengapa aku terlalu cepat mengulurkan tanganku.
Dari Batu karang yang akhirnya lubang karena airmu.
Terinspirasi dari kak Dwitasari
Jangan asal copas ya readers, buat karya itu nggak segampang copy paste :)
Kalau mau nampilin karya ini jangan lupa masukin nama pengarang ya:)
Trimakasih^^
LUCI ♡
Tidak ada komentar:
Posting Komentar