Dari ketinggian
ini, aku merasakan angin angin itu bertiup menembus jaket merahku. Angin yang
sedari tadi setia menemaniku tetap saja berhembus dengan asiknya. Dan dari
tempat ini, aku bisa memperhatikan semua orang yang berada disekitar. Ada yang
sedang menunggu temannya, ada yang sedang sibuk memainkan handphone, ada yang
bercanda gurau, ada pula yang duduk terpaku dengan buku bacaanya. Ya semua
orang sibuk dengan kegiatannya sendiri. Orang yang datang pun silih berganti
tapi aku masih tetap terpaku ditempat ini. Entah kenapa aku merasa sangat
tertarik dengan suasana ini, aku masih terlalu asik memperhatikan yang ada didepanku.
Suasana yang sejuk, ramai, tapi menenangkan memiliki kesan tersendiri untukku
yang mungkin lelah dengan keadaan kota yang selalu ramai dan penuh. Entah apa
yang aku pikirkan saat itu, tapi aku merasa tenang dengan cara seperti ini. Aku
yang terlalu asik melamun pun, tak sadar jika ada seseorang yang mendekatiku.
Hingga akhirnya tangan itu membuatku sadar dari semua lamunanku. Tangan yang
menepuk bahuku dengan sangat hati-hati. Kau datang dengan membawakanku sebuah
minuman. Entah kapan kau tau jika aku berada ditempat ini, hingga kau datang
dengan membawakanku minuman ini. Kau pun lansung mangambil tempat tepat
disampingku. Suasana saat itu terasa sangat hening tanpa sebuah percakapan
diantara kita. Tiba-tiba kau membuka pembicaraan dengan candaanmu yang gurih
seperti biasanya. Kita pun mulai bercandaria. Hingga lampu lampu taman pun
mulai menyala yang menunjukkan sang surya akan tenggalam dan akan digantikkan
oleh cahaya bintang yang indah. Kita pun masih terpaku ditempat yang sama.
Tapi, setelah canda tawa itu berhenti semua kembali terasa sangat sepi. Tak ada
percakapan diantara kita, yang seakan menunjukkan kita hanyut dalam pikiran
kita masing-masing. Hingga akhirnya mata kita tertuju pada satu arah yakni
seorang lelaki yang memberi hadiah kepada sang wanita. Entah apa yang saat itu
kau pikirkan. Aku pun menoleh kearahmu, yang masih sibuk dengan pikiranmu
sendiri, dan tiba-tiba mata kita saling bertemu. Mata itu seakan mengisyaratkan
suatu hal, tapi kenapa mulutmu tak juga mulai berkata. Kau pun lansung membuang
pandanganmu kearah sekitar. Cahaya lampu pun seakan ikut menunggu apa yang terjadi.
Hinga akhirnya, perlahan dan pasti kalimat kalimat itu keluar dari mulutmu. Kau
berkata bahwa kau akan meneruskan studi dilluar kota. Kata demi kata yang
keluar dari mulutmu seakan membuatku makin takut kehilangan semua ini. Aku tau
kita yang baru saja lulus harus melanjutkan studi untuk mengejar cita-cita
kita, tapi bisakah semua itu kita lalui tanpa ada kata pergi dan jauh? Kau
tetap meneruskan ucapan-ucapnmu yang makin lama makin membuat dada ini sesak.
Kau berkata bahwa kita masih bisa berhubungan tapi kita hanya akan sulit
bertemu, kita harus saling percaya satu sama lain, kita bisa lalui semuanya dan
lain sebagainya. Tau kah kamu saat setiap kata demi kata yang terucap darimu
ada harapan agar kau tetap disini? Agar kau tidak pergi? Perlahan ku mencoba
menenangkan perasaan ini, perasaan yang sungguh tak bisa aku sembunyikan jika
aku benar benar takut kehilangan sosokmu. Kita yang sedari tadi berbicara tanpa
saling berhadapan, tiba-tiba kau memegang pundakku yang membuatku saling
berhadapan denganmu. Kau seakan menyuruhku untuk tetap yakin dengan semua yang
ada didepanku. Dan tatapan itu seakan menyuruhku untuk tetap kuat dan bertahan.
Tapi, entah kenapa tiba-tiba air di mataku ini mendesak untuk keluar. Kau pun
menghapusnya semua itu,menghapus semua air mata yang mulai terjatuh dan
menenangkanku sambil berkata “Jika kita memang ditakdirkan bersama, suatu saat
nanti kita akan bersatu kembali”
LUCI ♡
Tidak ada komentar:
Posting Komentar