Jumat, 16 Oktober 2015

Takut Kehilangan

Dari ketinggian ini, aku merasakan angin angin itu bertiup menembus jaket merahku. Angin yang sedari tadi setia menemaniku tetap saja berhembus dengan asiknya. Dan dari tempat ini, aku bisa memperhatikan semua orang yang berada disekitar. Ada yang sedang menunggu temannya, ada yang sedang sibuk memainkan handphone, ada yang bercanda gurau, ada pula yang duduk terpaku dengan buku bacaanya. Ya semua orang sibuk dengan kegiatannya sendiri. Orang yang datang pun silih berganti tapi aku masih tetap terpaku ditempat ini. Entah kenapa aku merasa sangat tertarik dengan suasana ini, aku masih terlalu asik memperhatikan yang ada didepanku. Suasana yang sejuk, ramai, tapi menenangkan memiliki kesan tersendiri untukku yang mungkin lelah dengan keadaan kota yang selalu ramai dan penuh. Entah apa yang aku pikirkan saat itu, tapi aku merasa tenang dengan cara seperti ini. Aku yang terlalu asik melamun pun, tak sadar jika ada seseorang yang mendekatiku. Hingga akhirnya tangan itu membuatku sadar dari semua lamunanku. Tangan yang menepuk bahuku dengan sangat hati-hati. Kau datang dengan membawakanku sebuah minuman. Entah kapan kau tau jika aku berada ditempat ini, hingga kau datang dengan membawakanku minuman ini. Kau pun lansung mangambil tempat tepat disampingku. Suasana saat itu terasa sangat hening tanpa sebuah percakapan diantara kita. Tiba-tiba kau membuka pembicaraan dengan candaanmu yang gurih seperti biasanya. Kita pun mulai bercandaria. Hingga lampu lampu taman pun mulai menyala yang menunjukkan sang surya akan tenggalam dan akan digantikkan oleh cahaya bintang yang indah. Kita pun masih terpaku ditempat yang sama. Tapi, setelah canda tawa itu berhenti semua kembali terasa sangat sepi. Tak ada percakapan diantara kita, yang seakan menunjukkan kita hanyut dalam pikiran kita masing-masing. Hingga akhirnya mata kita tertuju pada satu arah yakni seorang lelaki yang memberi hadiah kepada sang wanita. Entah apa yang saat itu kau pikirkan. Aku pun menoleh kearahmu, yang masih sibuk dengan pikiranmu sendiri, dan tiba-tiba mata kita saling bertemu. Mata itu seakan mengisyaratkan suatu hal, tapi kenapa mulutmu tak juga mulai berkata. Kau pun lansung membuang pandanganmu kearah sekitar. Cahaya lampu pun seakan ikut menunggu apa yang terjadi. Hinga akhirnya, perlahan dan pasti kalimat kalimat itu keluar dari mulutmu. Kau berkata bahwa kau akan meneruskan studi dilluar kota. Kata demi kata yang keluar dari mulutmu seakan membuatku makin takut kehilangan semua ini. Aku tau kita yang baru saja lulus harus melanjutkan studi untuk mengejar cita-cita kita, tapi bisakah semua itu kita lalui tanpa ada kata pergi dan jauh? Kau tetap meneruskan ucapan-ucapnmu yang makin lama makin membuat dada ini sesak. Kau berkata bahwa kita masih bisa berhubungan tapi kita hanya akan sulit bertemu, kita harus saling percaya satu sama lain, kita bisa lalui semuanya dan lain sebagainya. Tau kah kamu saat setiap kata demi kata yang terucap darimu ada harapan agar kau tetap disini? Agar kau tidak pergi? Perlahan ku mencoba menenangkan perasaan ini, perasaan yang sungguh tak bisa aku sembunyikan jika aku benar benar takut kehilangan sosokmu. Kita yang sedari tadi berbicara tanpa saling berhadapan, tiba-tiba kau memegang pundakku yang membuatku saling berhadapan denganmu. Kau seakan menyuruhku untuk tetap yakin dengan semua yang ada didepanku. Dan tatapan itu seakan menyuruhku untuk tetap kuat dan bertahan. Tapi, entah kenapa tiba-tiba air di mataku ini mendesak untuk keluar. Kau pun menghapusnya semua itu,menghapus semua air mata yang mulai terjatuh dan menenangkanku sambil berkata “Jika kita memang ditakdirkan bersama, suatu saat nanti kita akan bersatu kembali”

LUCI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Dunia Kecil Lucita Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez