Minggu, 18 Oktober 2015

Perasaanku

Membaca history chat dengamu terkadang membuatku tertawa, nangis, senang, khawatir, dan lain sebagainya. Tapi entah kenapa membaca history chat seminggu kemarin, terasa sangat dikit dari minggu minggu sebelumnya. Atau mungkin karena kita sedang sibuk dengan belajar untuk ujian? Atau sibuk dengan yang lain? Tapi kenapa kau bisa membalas chat dengan orang lain? Pikiranku pun mulai melayang layang.
Yang kuingat, jalan cerita hubungan kita memang selalu tenang dan selalu baik baik saja. Memang ada beberpa kali salah paham tapi, semua itu selalu berkahir indah. Dan banyak teman yang menilai pun, ‘hubungan ku dengannya terlalu baik’, ‘apa yang dia lakuin manis banget ke aku’, ‘soo sweet banget aku dan dia barengan terus kemana-mana’, ‘dewasa banget hubungan kalian’, ‘udah lama banget ya kalian berhubungan’ dan lain sebagainya. Memang sih orang lain selalu menilai apa yang kita lakuin, tapi kan terkadang nggak semua yang mereka lihat itu bener. Dan saat aku bermain dengan temanku ku temui pertanyaan ‘kamu sudah berapa kali qualitytime sama pacar kamu? Biasanya keluar kemana?’ aku pun menjawabnya dengan ‘kalau keluar sih emang ngga pernah kecuali dulu pas kelas 11, tapi kalau quality time? Kan bisa disekolah’ mungkin memang terdengar aneh oleh temanku, tapi itu memangyang terjadi. Biasanya setiap orang yang berpacaran memang akan mengajak pasangannya keluar, walaupun hanya menghabiskan waktu bercertita bersama, berolahraga bersama, melakukan hobi bersama itu tak masalah, setidaknya mereka ada waktu bersama untuk mengenal lebih dalam dan membuat moment yang indah bersama. Tapi, itu tidak terjadi denganku.Terkadang memang miris, melihat besok tanggal 12 Oktober adalah hari monthsarry ku yang ke empat bulan denganmu dan hingga saat ini kita tak pernah Qtime berdua. Tapi aku sadar untuk sekedar mengabari saja sangat minim, apalagi untuk keluar merayakan atau menghabiskan waktu bersama. Tapi entah kenapa, terkadang aku masih merasa beruntung memilikinya daripada beberapa teman yang lainnya.
Hingga tiba tanggal itu, aku yang berniat untuk mengajakmu keluar untuk menemaniku membeli sesuatu yang sedari kemaren kuinginkan, dan ternyata rencana itu gagal karena saat itu kamu telah mengalami kecelakaan dan kamu harus mengurus beberapa hal. Sebenarnya ada perasaan kecewa, saat aku berharap di hari monthsarryku aku bisa menghabiskan waktu denganmu lebih lama tapi ternyata semua itu hanyal hayalanku. Tapi, aku harus mencoba mengerti dengan keadaan yang kamu alami sekarang. Dan ucapan ‘Happy Monthsarry’ pun baru terdengar darimu saat malam hari. Dan ku coba untuk selalu berpikir positif tentangmu.
Ke-esokan harinya. Hari ini aku merasa bosan karena sedari pagi hingga siang ini aku hanya mendengarkan music dan membaca beberapa cerita dari layar handphoneku ini. Sedari pagi tak ada guru yang memasuki kelasku ini, terkecuali guru piket yang member tugas dan mengingatkan saja. Tapi, sedari pagi hingga sekarang aku tak berbicara sama sekali denganmu. Aku pun mencoba mencari tau apa yang sedang kau lakukan, yang akhirnya aku melihatmu sedang asik menggambar. Aku pun mendatangi sekumpulan anak yg sedang melihat film horor, dan ikut menontonnya. Beberapa kali dari ekor mata ini, aku melihatnya bercanda dan asik bercerita dengan beberapa teman lelaki dan perempuan. Hingga akhirnya film itu selesai, ku coba mendatanginya tapi dia hanya menoleh, ku coba mencari perhatiannya dengan membuatnya tak selesai selesai menggambar. Tapi, yang kudapat tak sesuai keinginanku, dia malah membuatku badmood dengan ucapannya yang seolah aku hanya pengganggu baginya. Aku pun berjalan meninggalkannya, dan dia pun masih tetap melanjutkan gambarnya. Dan saat pulang pun dia seakan tidak melakukan apa-apa padaku, seakan semuanya baik-baik saja. Aku pun mencoba tak memperdulikannya, mencoba cuek padanya, mencoba tak akan memngganggunya dan aku telah berkata kepadanya seperti itu, dan ia pun membiarkanku untuk menjadi orang lain yang tak peduli dengannya.
Hingga tiba hari Jumat, aku pun mulai lelah untuk menjadi ‘orang lain yang tak peduli dengannya’. Dan sepulang sekolahpun aku memutuskan untuk meminta maaf kepadamu, tapi jawabanmu hanya seperti itu, kucuba menurunkan ego yang beberapa hari ini ada di perasaanku. Perasaan yang sungguh berharap dia tau apa yang aku inginkan dan apa yang aku rasakan tapi itu tak mungkin. Saat dirumah ku coba untuk mengingatkan dia beberapa hal dan hanya direspon seperlunya, yang menandakan dia masih marah juga denganku. Perdebatan di layar handphone pun dimulai, dia mengeluarkan apa yg dia rasakan saat itu ‘aku ngga marah sama kamu tapi aku kecewa kenapa kmu nganggep kemaren itu serius’ aku pun mencoba menjelaskan dengan tenang hingga akhirnya aku mengungkapkan perasaan yang aku rasakan beberapa akhir itu. Perasaan yang ingin sekali ada waktu dengannya untuk bercanda, bercerita, Qtime, dll, tapi dia selalu sibuk dengan urusannya. Tapi dari jauh kita mesti liat dia bisa ketawa asik sama temannya, tapi saat denganku seakan aku hanya pengganggu buatnya. Dan saat aku bilang seperti itu entah kenapa kamu mulai luluh, dan akhirnya kau pun meminta maaf. Semuanya pun kembali seperti biasa, tapi aku rasa kamu sekarang berubah jadi lebih baik. Thanks for all boy.

Intinya sih jangan pernah peduli apa kata orang, ikutin kata hati kamu aja. Semua orang kan cuman bisa lihat, ngga tau yang terjadi sebenernya jadi buat apa dengerin mereka, terkeculi itu nasehat atau masukan buat kamu bukan hasutan ke hal yang negative. Dan yang terpenting dalam suatu hubungan adalah saling terbuka satu sama lain, jangan saling nutup-nutupin sesuatu nanti masalahnya tidak selesai-selesai yang ada tambah runyam. Dan selalu berfikir positif kepada pasangan kita. 


LUCI 

Jumat, 16 Oktober 2015

Lost and Back

Sore ini aku memutuskuan untuk pergi ke taman perumahan yang biasaku kunjungi. Dengan pakaian biasa aku pun keluar rumah dengan membawa buku kecil yang penuh hiasan merah muda dan putih yang sangat cantik untuk dilihat.Langkah demi langkah pun aku lewati, kurasakan suasana disekitarku yang cukup ramai. Bunyi lagu yang kuputar dari earphone pun turut menemaniku yang membuat suasana sore ini makin indah. Kubiarkan langkah kakiku melangkah sesuai iringan lagu. Hingga akhirnya aku pun tiba ketempat tujuanku. Taman yang menjadi tujuan utamaku pun sudah didepan mata. Aku pun lansung menuju ke ayunan yang biasanya aku duduki. Keadaan taman saat ini pun cukup tenang tidak seperti biasanya yang ramai dan penuh dengan anak anak kecil bermain.
Aku pun membuka buku yang sedari tadi kubawa. Kubuka halaman demi halaman untuk mencari halaman yang kosong. Dan aku pun berhenti dihalaman yang penuh tulisan dan gambar gambar anehku, dan aku masih ingat betul kapan aku menulis itu. Mengingat tulisan itu, aku jadi kembali mengingat sosokmu. Sosok yang saat itu sudah mulai pudar dan menghilang dari kehidupanku. Sosok orang yang bisa memikat hatiku hingga saat ini. Sosok orang yang selalu membuatku terkagum dengan kepandaiannya dalam agama. Tapi, saat aku mulai terkagum, mulai terbawa arusmu, sosokmu tiba tiba mulai memudar dan seakan-akan akan menghilang dan tak akan kembali dikehidupanku lagi. Tapi, ternyata pemikiraku salah.
Di tempat ini aku bisa merasakan dari awal kita dekat hanya karena comblangan teman, lalu kau mendekatiku dengan tipuan muslihatmu, berjalan seakan kita akan benar menjadi suatu pasangan, kau membuatku nyaman dengan semua caramu, hingga akhirnya you shoot me tapi hingga saat itu kita masih berteman dan tidak memiliki satus berpacaran. Dan tanpa alasan yang jelas tiba-tiba kita menjauh seakan seperti orang yang tidak pernah kenal. Kita yang satu sekolah bahkan satu kelas itu pun tak pernah bertegur sapa dan saling mengajak bicara. Waktu pun terus berjalan tapi kita masih tetap seperti itu. Hingga suatu kejadian saat kita ada dalam suatu acara ulang tahun, kita menjadi sebuah pasangan dalam suatu games. Kita yang saat itu disuru berjalan seolah sebuah pasangan, dan saling menyuapkan sepotong kue tart pun seakan membuka lembar kembali untukku. Dan dari situ aku seakan sadar, aku masih meiliki alasan untuk tetap disini. Hari berganti minggu, minggu pun mulai berganti menjadi bulan. Kita pun menjadi dekat kembai, walau mungkin memang tak seperti dulu. Hingga akhirnya kita berpacaran sekarang.
Entah kenapa semua memori memori itu masih terekam jelas oleh otakku. Saat kita kembali dekat seakan aku memiliki kesempatan kedua yang entah aku mau lanjutkan atau memang aku tak akan mendapatkannya lagi. ‘Indah, tidak mudah menyerah, pejuang’ entah mengapa aku mendapat kata kata itu saat memikirkan saat kita kembali dekat. Kamu melakukan banyak hal yang selalu membuatku nyaman. Seperti saat itu kamu yang datang ke suatu mall yang cukup jauh dari rumahmu untuk menemuiku saat aku lomba, dari siang hingga pukul setengah sepuluh malam kau menemaniku disana, dengan kondisi badanmu yang saat itu demam kau paksakan dirimu kesana. Entah apa yang kau pikirkan saat itu, perasaan senang, terharu, khawatir, takut pun menjadi satu dalam perasaanku saat itu. Maybe it’s look very simple, but I fell so melting boy, Thank you for all. And until now you always like that for me. Can you always do it for me boy until end time?
Kata orang jodoh itu ngga akan tertukar, ngga akan salah jalan, dan ngga akan kemana-mana. Aku percaya kata-kata itu. Jika memang perasaan seseorang ada pada someone, seseorang itu akan stay in there bukan pergi mencari hal baru yang lebih menarik. Dan dibawa easy aja, kalau kata afgan sih jodoh pasti bertemuu…
LUCI

Takut Kehilangan

Dari ketinggian ini, aku merasakan angin angin itu bertiup menembus jaket merahku. Angin yang sedari tadi setia menemaniku tetap saja berhembus dengan asiknya. Dan dari tempat ini, aku bisa memperhatikan semua orang yang berada disekitar. Ada yang sedang menunggu temannya, ada yang sedang sibuk memainkan handphone, ada yang bercanda gurau, ada pula yang duduk terpaku dengan buku bacaanya. Ya semua orang sibuk dengan kegiatannya sendiri. Orang yang datang pun silih berganti tapi aku masih tetap terpaku ditempat ini. Entah kenapa aku merasa sangat tertarik dengan suasana ini, aku masih terlalu asik memperhatikan yang ada didepanku. Suasana yang sejuk, ramai, tapi menenangkan memiliki kesan tersendiri untukku yang mungkin lelah dengan keadaan kota yang selalu ramai dan penuh. Entah apa yang aku pikirkan saat itu, tapi aku merasa tenang dengan cara seperti ini. Aku yang terlalu asik melamun pun, tak sadar jika ada seseorang yang mendekatiku. Hingga akhirnya tangan itu membuatku sadar dari semua lamunanku. Tangan yang menepuk bahuku dengan sangat hati-hati. Kau datang dengan membawakanku sebuah minuman. Entah kapan kau tau jika aku berada ditempat ini, hingga kau datang dengan membawakanku minuman ini. Kau pun lansung mangambil tempat tepat disampingku. Suasana saat itu terasa sangat hening tanpa sebuah percakapan diantara kita. Tiba-tiba kau membuka pembicaraan dengan candaanmu yang gurih seperti biasanya. Kita pun mulai bercandaria. Hingga lampu lampu taman pun mulai menyala yang menunjukkan sang surya akan tenggalam dan akan digantikkan oleh cahaya bintang yang indah. Kita pun masih terpaku ditempat yang sama. Tapi, setelah canda tawa itu berhenti semua kembali terasa sangat sepi. Tak ada percakapan diantara kita, yang seakan menunjukkan kita hanyut dalam pikiran kita masing-masing. Hingga akhirnya mata kita tertuju pada satu arah yakni seorang lelaki yang memberi hadiah kepada sang wanita. Entah apa yang saat itu kau pikirkan. Aku pun menoleh kearahmu, yang masih sibuk dengan pikiranmu sendiri, dan tiba-tiba mata kita saling bertemu. Mata itu seakan mengisyaratkan suatu hal, tapi kenapa mulutmu tak juga mulai berkata. Kau pun lansung membuang pandanganmu kearah sekitar. Cahaya lampu pun seakan ikut menunggu apa yang terjadi. Hinga akhirnya, perlahan dan pasti kalimat kalimat itu keluar dari mulutmu. Kau berkata bahwa kau akan meneruskan studi dilluar kota. Kata demi kata yang keluar dari mulutmu seakan membuatku makin takut kehilangan semua ini. Aku tau kita yang baru saja lulus harus melanjutkan studi untuk mengejar cita-cita kita, tapi bisakah semua itu kita lalui tanpa ada kata pergi dan jauh? Kau tetap meneruskan ucapan-ucapnmu yang makin lama makin membuat dada ini sesak. Kau berkata bahwa kita masih bisa berhubungan tapi kita hanya akan sulit bertemu, kita harus saling percaya satu sama lain, kita bisa lalui semuanya dan lain sebagainya. Tau kah kamu saat setiap kata demi kata yang terucap darimu ada harapan agar kau tetap disini? Agar kau tidak pergi? Perlahan ku mencoba menenangkan perasaan ini, perasaan yang sungguh tak bisa aku sembunyikan jika aku benar benar takut kehilangan sosokmu. Kita yang sedari tadi berbicara tanpa saling berhadapan, tiba-tiba kau memegang pundakku yang membuatku saling berhadapan denganmu. Kau seakan menyuruhku untuk tetap yakin dengan semua yang ada didepanku. Dan tatapan itu seakan menyuruhku untuk tetap kuat dan bertahan. Tapi, entah kenapa tiba-tiba air di mataku ini mendesak untuk keluar. Kau pun menghapusnya semua itu,menghapus semua air mata yang mulai terjatuh dan menenangkanku sambil berkata “Jika kita memang ditakdirkan bersama, suatu saat nanti kita akan bersatu kembali”

LUCI
 

Dunia Kecil Lucita Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez